Jakarta (Radar96.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan bahwa Jawa Timur saat ini dalam kondisi yang aman dan tidak ada kejadian bencana gempa di Malang.
“Tak ada gempa seperti sempat dikabarkan bahwa di Kabupaten Malang terjadi dengan magnitudo 3,5 SR pada Jumat (21/1/2022) pada pukul 04.30,” katanya di kantor perwakilan Jawa Timur di Jakarta, Sabtu (22/1/2022).
Setelah diterima Wakil Presiden RI, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa kabar yang dilansir TribunManado.co.id tersebut tidak benar dan di Jawa Timur tidak ada laporan maupun pantauan terjadinya gempa seperti yang diberitakan.
“Alhamdulillah kondisi di Jawa Timur saat ini aman, dan kita berdoa agar Allah selalu menjaga bumi Jawa Timur dalam lindungan-Nya,” kata Gubernur Khofifah.
Pihaknya juga telah melakukan klarifikasi dan kroscek kepada Bupati Malang dan Bupati Blitar terkait kabar gempa tersebut dan mendapatkan jawaban yang sama bahwa di daerah tersebut tidak ada bencana gempa.
“Saya juga sudah kroscek ke Bupati Malang dan Bupati Blitar serta BPBD Provinsi Jawa Timur mereka menyampaikan bahwa di Malang sesuai informasi Bupati Malang ada grup WA yang anggotanya adalah camat se-kabupaten Malang, dan kemarin bahkan sampai pagi ini, tidak ada laporan gempa. Begitu pula Bupati Blitar,” tandas Khofifah.
Mantan Menteri Sosial dan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan ini mengajak seluruh warga Jawa Timur untuk waspada, karena dalam rentang bulan ini hingga beberapa bulan ke depan masih ada potensi terjadinya cuaca ekstrem.
BMKG juga telah memberikan warning pada Jawa Timur bahwa potensi bencana akibat fenomena La Nina dan potensi bencana hidrometeorologi masih akan berlangsung. Bahkan diprediksi hingga bulan April curah hujan masih berpotensi turun sangat tinggi.
Oleh sebab itu, mitigasi bencana, kewaspadaan, dan gotong royong diharapkan bisa menjadi hal yang diprioritaskan dalam waktu-waktu ini hingga ke depan.
“Saya minta seluruh masyarakat di semua kabupaten kota di Jawa Timur untuk terus waspada. Masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama bergotong royong dalam melakukan mitigasi bencana,” tegasnya.
Salah satu contoh terkecil, diimbau Khofifah, masyarakat bisa bersama sama aktif mengecek kondisi kebersihan lingkungan sungai, saluran air, dan juga melakukan perantingan pada pohon-pohon yang sudah rentan tumbang.
Antisipasi dalam bentuk terkecil saat mitigasi bencana sangat diperlukan guna mencegah potensi dampak bencana yang lebih besar. (*/hmn)



