Diaspora Santri Nurul Jadid sampai ke Negeri Tirai Bambu

Nur Musyaffak, ketua IKATNJ (kedua dari kiri/berkemeja batik/Instagram @ikatnj_)
Bagikan yuk..!

Oleh Prima Nurahmi Mulyasari dan Lamijo *)

“Dari kampung, dari sebuah desa yang bernama Karanganyar, dari sebuah Kecamatan yang bernama Paiton dan dari sebuah Pondok Pesantren yang ada di pinggir laut yang bernama Pondok Pesantren Nurul Jadid. Biarpun ada di kampung, tapi Insya Allah dengan jembatan Bahasa, Anda akan melanglang dunia” (Kiai Muhammad Al-Fayyadl).

Tidak berlebihan kiranya Kiai Muhammad Al-Fayyadl, Direktur Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo mengatakan demikian.

Sejak berdiri pada tahun 1948, Pondok Pesantren (Ponpes) ini telah mengirimkan ratusan bahkan mungkin ribuan santrinya untuk belajar ke luar negeri.

Kiai Fayyadl sendiri merupakan alumnus Universite Paris VIII pada program magister jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan di Vincennes-Saint-Denis, Prancis.

Sejak lama para kiai pendiri dan pengasuh Ponpes Nurul Jadid menyadari pentingnya santri mendalami berbagai bidang ilmu, tidak hanya ilmu agama. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ada pergeseran orientasi negara tujuan para santri Ponpes Nurul Jadid dalam menuntut ilmu di luar Indonesia.

Selama sepuluh tahun terakhir misalnya, para santri Ponpes Nurul Jadid beramai-ramai menimba ilmu non-agama ke Tiongkok. Hal yang mungkin terdengar tidak lazim dalam dunia santri sebab para lulusan ponpes pada umumnya mayoritas memilih melanjutkan ilmu agama di Timur Tengah atau Afrika Utara.

Berdasarkan data Kementerian Agama, saat ini Pondok Pesantren di Indonesia berjumlah kurang lebih 27 ribu dan para lulusannya telah banyak berdiaspora ke berbagai negara untuk menuntut ilmu maupun bekerja.

Berbagai organisasi berlatar belakang santri berdiri di luar negeri, baik dalam bentuk Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Muhammadiyah dan PCI Nahdlatul Ulama, dua ormas Islam terbesar di Indonesia, maupun organisasi lainnya.

Begitu pula organisasi-organisasi alumni pondok pesantren yang berdiaspora. Misalnya, alumni Gontor yang tinggal di Eropa sepakat untuk membentuk Ikatan Alumni Pondok Modern (IKPM) Cabang Eropa. Para alumni universitas-universitas Tiongkok dari Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, mendirikan Ikatan Keluarga Alumni Tiongkok Nurul Jadid (IKATNJ) pada tahun 2017.

Untuk melihat kiprah dan peran santri dan Ponpes Nurul Jadid, minggu lalu, dua peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W-LIPI) dari Tim Prioritas Riset Nasional (PRN) Diaspora, Prima Nurahmi dan Lamijo, melakukan perjalanan lapangan ke Jawa Timur, menemui Nur Musyaffak, Ketua IKATNJ.

Ia saat ini merupakan mahasiswa doktoral di kampus Central China National University (CCNU) di Wuhan. Sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Wuhan, dia berperan besar dalam mengurus pemulangan sekitar 200an WNI di Wuhan dan sekitarnya ke Indonesia saat kota tersebut mengalami lockdown disebabkan oleh pandemi COVID-19 pada awal tahun 2020.

Nur Musyaffak merupakan generasi ketiga dari Ponpes Nurul Jadid yang meraih beasiswa melanjutkan jenjang sarjana ke Huaqiao University, Xiamen, Provinsi Fujian.

Generasi pertama dan kedua berturut-turut berangkat tahun 2010 dan 2011 juga berkuliah di kampus yang sama. Ia berangkat ke Tiongkok pada tahun 2012, lalu lulus empat tahun kemudian dari jurusan Pendidikan Bahasa Mandarin.

Sejak tahun 2004, Ponpes Nurul Jadid mengajarkan Bahasa Mandarin kepada para santrinya yang bersekolah di SMA Nurul Jadid Jurusan Bahasa. “Awalnya ustaz kami setiap minggu belajar Bahasa Mandarin ke klenteng di kota. Pelajaran dari klenteng langsung diajarkan kepada kami. Baru pada tahun 2006, ada bantuan pengajar native dari Tiongkok atas bantuan Lembaga Kordinasi Pengembangan Bahasa Tionghoa (LKPBT) Jawa Timur,” kata Musyaffak mengawali perbincangan itu.

Seiring dengan semangat Reformasi 1998 yang telah mengizinkan pembelajaran Bahasa Mandarin di sekolah-sekolah Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, LKPBT Jawa Timur memberikan beasiswa kepada para mahasiswa Indonesia yang berminat khusus mendalami studi pengajaran Bahasa Mandarin di Tiongkok.
Tujuannya adalah mencetak guru-guru Bahasa Mandarin guna mengisi kekurangan guru Bahasa Mandarin di sekolah-sekolah swasta yang memiliki banyak murid Tionghoa di Jawa Timur.

Henoch Pradana, mantan Wakil Ketua LKPBT Jawa Timur, yang kami temui beberapa hari lalu, mengungkapkan bahwa beasiswa tidak tertulis ini awalnya hanya ditujukan kepada warga keturunan Tionghoa di Indonesia.
Sayangnya, beasiswa tersebut kurang mendapat respon baik. Hal itu terjadi karena adanya pandangan di sebagian kalangan orang-orang Tionghoa bahwa menjadi guru itu penghasilannya kurang menjanjikan.

Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan oleh para santri SMA Nurul Jadid untuk memperoleh beasiswa tersebut guna melanjutkan pendidikan ke Negeri Tirai Bambu.

“Awalnya dilarang Ummi, karena bagi orang Indonesia, Tiongkok itu negara komunis. Tapi untungnya ada ‘Uthlubul ‘ilma walau bishshiin’ (tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina) sehingga akhirnya Ummi mengizinkan,” tutur Musyaffak.

Di Tiongkok, Musyaffak bergabung dengan beberapa organisasi lingkup kampus maupun masyarakat Indonesia. Selain ketua PPI Tiongkok cabang Wuhan, ia aktif pula sebagai Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok bahkan turut mendirikan perkumpulan pengajian mahasiswa Indonesia ‘Hikamul Muttaqin’ di kota Xiamen.

Sebab, menurut ajaran yang ia dapatkan di Nurul Jadid, santri harus mengamalkan Panca Kesadaran Santri yakni: 1) Kesadaran beragama; 2) Kesadaran berilmu; 3) Kesadaran bermasyarakat; 4) Kesadaran berbangsa dan bernegara; 5) Kesadaran berorganisasi. Panca Kesadaran Santri ini merupakan konsep pemikiran K.H. Zaini Mun’im yang merupakan pendiri Ponpes Nurul Jadid.

Penelusuran yang dilakukan IKATNJ telah mendata lebih dari 120 santri Ponpes Nurul Jadid yang meneruskan pendidikan di Tiongkok meskipun menurut Musyaffak, jumlah sebenarnya berkisar 200an. Terbanyak dari mereka adalah penerima beasiswa LKPBT namun Beasiswa Confucius dan Chinese Government Scholarship (CGS) yang menawarkan jurusan lebih umum dan beragam juga diminati.

Dalam waktu 10 tahun para santri Ponpes Nurul Jadid telah tersebar ke berbagai universitas di Tiongkok yang beberapa di antaranya ialah universitas-universitas ternama, antara lain: Chongqing University of Arts and Science, Fuzhou University, Guangxi Normal University, Xiamen University, Zhejiang University, Hubei Polytechnic University, Nanjing Railway Vocational and Technical College, Nanjing university of Information Science and Technology, Suzhou Institute of Trade and Commerce, Shanghai Normal University.

Mereka yang telah lulus dan kembali ke Indonesia memiliki pekerjaan yang bervariasi. Selain sebagai guru Bahasa Mandarin, mereka juga bekerja di perusahaan-perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Indonesia, dosen maupun peneliti.

Peran Diaspora Santri

Diaspora merupakan aset penting sekaligus kekuatan ekonomi negara. Remitansi ekonomi, pengetahuan dan pengalaman terhadap negara yang ditinggali, dan peranan agensi dalam diplomasi ekonomi merupakan potensi diaspora yang bisa dikembangkan ke depannya.

Seiring dengan semakin besarnya perhatian pemerintah terhadap diaspora Indonesia yang diperkirakan berjumlah delapan juta orang dan tersebar di berbagai wilayah di dunia, pemanfaatan jaringan diaspora sangat penting untuk menguatkan peran ekonomi diaspora Indonesia.

Mengacu pada kajian penelitian Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI (2019), definisi diaspora Indonesia adalah “Orang Indonesia dan/atau keturunannya yang menyebar dari wilayah Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan, terlepas dari kewarganegaraan yang sekarang dimiliki, menetap secara temporer maupun permanen di luar wilayah Indonesia, dan memiliki hubungan sentimental dan/atau material dengan wilayah asalnya di Indonesia”.

Diaspora Indonesia memiliki ragam karakteristik yang berbeda, dilihat dari aspek geografis, demografis, sosiologis, dan kultural historis. Diaspora Indonesia di Malaysia, misalnya, sebagian besar didominasi oleh pekerja migran yang bekerja di sektor perkebunan. Secara etnisitas, mereka juga berasal dari etnis Bugis, Minang, Jawa, dan Melayu karena mempunyai sejarah migrasi yang cukup panjang ke Malaysia.

Sementara diaspora Indonesia di Timur Tengah didominasi oleh pekerja migran Indonesia (PMI), khususnya di bidang rumah tangga. Fenomena santri Ponpes Nurul Jadid dalam satu dekade terakhir yang mulai menuntut ilmu di Tiongkok pun memiliki karakteristik tersendiri sebagai diaspora santri. Peran dan jaringan diaspora santri Nurul Jadid menjadi isu yang menarik terkait dengan konteks upaya pemerintah untuk menguatkan peran ekonomi diaspora Indonesia.

Terkait investasi Tiongkok ke Indonesia, Musyaffak mengakui bahwa ketua LPBA Ponpes Nurul Jadid, Kiai Muhammad Al-Fayyadl, merupakan salah satu pegiat aktif Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dengan agenda menentang proyek investasi Tiongkok ke Indonesia yang dinilai banyak melakukan praktik perusakan lingkungan.
Namun demikian, menurut Musyaffak, sebagai ketua Lembaga Pengembangan Bahasa Asing, beliau sangat mendukung pembelajaran Bahasa Mandarin di Ponpes Nurul Jadid, termasuk pilihan para santrinya untuk studi lanjut ke Tiongkok.

Hanya saja, tambah Musyaffak, Kiai Muhammad Al-Fayyadl berpesan agar setelah pulang ke tanah air, kelak para santri Nurul Jadid dapat membangun sebuah gerakan dari ilmu yang diperolehnya dari Tiongkok untuk membangun masyarakat Indonesia.

Pesan Kiai Fayyadl tersebut dilaksanakan IKATNJ dengan melakukan kegiatan pembinaan pengembangan Bahasa Mandarin bagi ponpes-ponpes di Jawa Timur dan membuka keran informasi beasiswa-beasiswa ke Tiongkok.

Ponpes-ponpes yang mendapatkan pendampingan guru Bahasa Mandarin ialah Ponpes Bata-bata Pamekasan, Ponpes Modung Bangkalan, Ponpes Bahrul Ulum Probolinggo, Ponpes Badridduja Probolinggo, Ponpes Darussalam Banyuwangi.

Selain itu, lanjut Musyaffak, Ponpes Nurul Jadid juga merupakan satu-satunya Ponpes di Indonesia yang diberi kepercayaan dan wewenang oleh pengembang Bahasa Mandarin pemerintah Tiongkok untuk menyelenggarakan ujian standar kemampuan Bahasa Mandarin (Hanyu Shuiping Kaoshi/ HSK).

Pondok Pesantren Nurul Jadid, sebagai salah satu entitas pendidikan tidak hanya berupaya mencetak ulama maupun pemuka agama tetapi juga menjadi pelopor munculnya diaspora santri ke Tiongkok yang saat ini merupakan negara berkembang dengan ekonomi terbesar nomor dua di dunia.

Pengalaman diapora santri menetap, belajar di luar negeri serta berintekrasi dalam lingkup global semoga dapat memberi nilai positif dan meningkatkan kemajuan para santri tanah air. (*)

*) Penulis adalah peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W-LIPI) dari Tim Prioritas Riset Nasional (PRN) Diaspora LIPI
*) Sumber: http://psdr.lipi.go.id/news-and-events/opinions/dari-pondok-ke-tiongkok-diaspora-santri-nurul-jadid-ke-negeri-tirai-bambu.html

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *