Surabaya. Radar96.com.
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, adalah sosok teladan bagi umat. Betapa tidak, setelah menerima amanat sebagai Rais Aam PBNU, mantan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur itupun harus bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya. Apalagi setelah menerima amanat kedua sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, waktu dan tenaganya harus benar-benar semakin diperhitungkan.
Hal itu dikarenakan beliau tinggal di Surabaya, sedangkan Kantor PBNU dan Kantor MUI Pusat berada di Jakarta.
Maka Kiai Miftah harus membagi waktunya, empat hari di Surabaya dan tiga hari di Jakarta.
Itupun kadang berubah secara mendadak. Misalnya pagi baru datang dari Jakarta, ternyata malamnya harus balik lagi ke Jakarta.
“Ada yang bilang, saya ini hidup seperti setrika. Maju-mundur, maju-mundur, Jakarta- Surabaya, Jakarta-Surabaya,” kata Kiai Miftah di kediamannya, Pondok Pesantren Miftachussunnah Kedungtarukan Surabaya, Selasa (19/04/22) malam.
Selama bolak-balik rutin Jakarta-Surabaya itu Kiai Miftah memilih perjalanan darat dengan menaiki mobil pribadinya. Bukan naik pesawat udara. Hal itu dikarenakan perjalanan udara lebih ribet. Apalagi ketika swab dan PCR masih diberlakukan.
“Toh waktu tempuh dan capeknya hampir sama, kok,” tuturnya.
Putra menantu KH Masduki Lasem itu mengaku tidak merasa keberatan dengan pola hidup seperti setrika itu. Namanya juga bagian dari perjuangan dan dalam rangka mengemban amanat.
Untuk itulah ketika jabatan Ketua Umum MUI Pusat beliau lepas, sebagai bagian dari pemenuhan permintaan salah seorang anggota Ahlul Halli wal Aqdi dalam forum muktamar yang lalu, beliau malah merasa lebih ringan. Ngantor di Jakartanya berkurang, cukup satu kantor di PBNU, tidak perlu lagi ke Kantor MUI Pusat.
Bahkan ketika mendapat permintaan untuk tidak merangkap jabatan di MUI kala itu, Kiai Miftah malah menambah jawaban, “Tidak hanya dari Ketua Umum MUI Pusat, mundur dari Rais Aam PBNU pun, selalu siap sewaktu-waktu.”
Permintaan mundur dari Ketua Umum MUI Pusat itu, menurut Kiai Miftah, malah kebetulan.
Makanya saat permintaan itu muncul, cepat-cepat beliau jawab tanpa ragu sedikit pun.
“Sebab pada dasarnya saya ini tidak suka rangkap jabatan,” jelasnya.
“Maka ketika amanat itu berkurang satu, setrikanya menjadi lebih ringan, he he he,” tutur Kiai Miftah.

