Pati, radar96.com – Puluhan mahasiswa KKN Universitas Muria Kudus (UMK) melaksanakan sosialisasi pembuatan arang briket dari sekam padi dalam rangka pemanfaatan limbah padi yang selama ini kurang dimanfaatkan masyarakat.
Acara sosialisasi yang dihadiri 26 peserta dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk petani, pengusaha lokal, dan perwakilan dari desa itu dilaksanakan di rumah salah seorang perangkat Desa Kebolampang, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Jateng, Sabtu (31/8/2024).

“Saya sangat senang diadakan acara seperti ini oleh adik-adik KKN UMK karena bisa menambah pengetahuan dan ketrampilan kepada warga desa kebolampang sendiri dengan memanfaatkan limbah padi menjadi salah satu peluang usaha,” ujar salah seorang perangkat desa, Supawi.
Dalam acara ini, peserta mendapatkan penjelasan mendetail mengenai proses pembuatan arang briket, mulai dari persiapan bahan, proses pembakaran, hingga teknik pencetakan briket yang siap untuk digunakan atau dipasarkan.
Sosialisasi Tim KKN 28 UMK itu bertujuan meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian, mendukung program keberlanjutan lingkungan, sekaligus memberikan pengetahuan dan ketrampilan tambahan kepada masyarakat desa tentang cara mengolah sekam padi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Sekam padi yang merupakan limbah hasil penggilingan padi, sering kali hanya dibuang begitu saja atau dibakar sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Melalui sosialisasi ini, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan sekam padi sebagai bahan baku untuk pembuatan arang briket, yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi sebagai sumber pendapatan tambahan.
Peserta mendapatkan penjelasan mendetail mengenai proses pembuatan arang briket, mulai dari persiapan bahan, dilanjutkan dengan penggilingan untuk mendapatkan tekstur yang sesuai. Tahap berikutnya adalah pencampuran sekam yang sudah halus dengan perekat, yaitu tepung tapioka dan air panas, untuk meningkatkan daya tahan briket.
Selanjutnya, terdapat proses pencetakan yang memberikan bentuk dan ukuran standar pada briket, diikuti dengan tahap akhir berupa pengeringan.
Pelatihan ini semakin menarik dan efektif karena adanya pendekatan hands-on yang diterapkan. Para peserta tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga diajak untuk terlibat langsung dalam setiap tahapan proses produksi.
Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis yang siap diaplikasikan dalam meningkatkan produktivitas usaha mereka, sehingga sosialisasi itu tidak hanya sekadar transfer teknologi, tetapi juga memberdayakan masyarakat.
Inisiatif semacam ini membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat menghasilkan solusi nyata untuk permasalahan desa, sekaligus mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan. (*/umk)

