Tulungagung, radar96.com – Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung yang sejak pagi sudah sejuk itu semakin terasa segar, karena pada Selasa (9/9) matahari tertutup mendung. Bahkan sempat gerimis. Begitulah suasana sebelum digelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimulai.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Azhaar Indonesia, KH Imam Mawardi Ridlwan menuturkan, Pagerwojo Tulungagung menggelar Maulid Nabi untuk meneruskan tradisi para ulama yang telah membuka dakwah di desa tersebut. Kegiatan dilaksanakan di halaman Masjid Sunan Kalijogo Mulyosari, Pagerwojo.
“Maulid Nabi itu membaca shalawat dan shirah kemuliaan Nabi kita, Sayyidina Muhammad SAW. Amalan shalawat itu tak lekang oleh waktu,” jelas Abah Imam dalam sambutannya.
Abah Imam lebih lanjut menyampaikan bahwa Maulid Nabi bersumber dari mahabbah (kecintaan) kepada Nabi. Setiap ada peringatan maulid, tumbuh dan berkembanglah cinta dan pancaran kerinduan kepada sang Nabi yang mulia, Sayyidina Muhammad SAW.
Lebih lanjut, Wakil Ketua LD PWNU Jawa Timur itu mengisahkan, Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani mengelar Maulid Nabi setiap ada majelis dan bahkan setiap belajar mengaji. Semua itu dijalankan karena kerinduan yang tak pernah padam.
Peringatan Maulid Nabi di Pagerwojo dihadiri oleh KH Mahrus Maryani, Pengasuh Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Ngunut dan Habib Muhammad Hasan Al Jufri dari Mukala Yaman, Pengasuh Al Khoirot Institut. Juga hadir Kepala KUA Pagerwojo, Kepala Desa Mulyosari, Kepala Desa Samar, KH Syamsudin, KH Salim, Gus Burhan, Kiai Mahfudh, Kiai Hudzoifah, Abah Mukri, Ketua Takmir Masjid Walisongo, serta perwakilan dari Koramil dan Polres.
Abah Imam menutup keterangan dengan berkisah bahwa Abuya Sayyid Muhammad Alawi membiasakan Maulid Nabi pada setiap kegiatan. Beliau tidak menunggu momen besar. Beliau menjadikan maulid sebagai bagian dari denyut kehidupan, seperti udara yang dihirup, seperti air yang diminum. Maulid adalah kebutuhan ruhani, bukan sekadar perayaan.
Tradisi beliau adalah menjadikan maulid sebagai kegiatan yang mulia dan akan mendapatkan kemuliaan. “Saatnya kita warisi tradisi menggelar di setiap momentum, sehingga terwujud sebagai kebiasaan dan tradisi. Sebaiknya mentradisikan Maulid Nabi di rumah, di sekolah, dan di kantor,” jelas Abah Imam.

