Surabaya, radar96.com – Kentongan Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) yang dibuat tahun 1999 atau berusia 27 tahunan menjadi objek selfie dari jamaah yang menyaksikan pameran “Museum Masa Lalu dan Masa Kini MAS” di sisi utara Air Mancur MAS selama 1-30 Ramadhan 1447 H.
“Pameran tentang Museum Masa Lalu dan Masa Kini MAS itu memamerkan aset historis milik Masjid Al-Akbar sejak dibangun hingga sekarang, juga sejumlah manuskrip/turats terkait masuknya Islam di Jatim,” kata Humas MAS H Helmy M Noor di Surabaya, Kamis.
Didampingi Kasie Perlengkapan, Perawatan, dan Kebersihan MAS, Sutrisno, ia menjelaskan kentongan yang berbahan kayu jati dengan ukiran khusus yang artistik itu merupakan buatan jamaah Madura pada tahun 1999 atau setahun sebelum peresmian MAS.
“Ada tiga aset historis yang dibuat jamaah Madura yang juga pengurus masjid saat itu yakni kentongan, beduk, dan mimbar khutbah. Semuanya sudah jadi sebelum Masjid Al-Akbar diresmikan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 10 November 2000,” katanya.
Dalam Museum Masa Lalu dan Masa Kini itu juga disebutkan Masjid Al-Akbar dibangun pada 4 Agustus 1995 atas gagasan mantan Wali Kota Surabaya Soenarto Soemoprawiro (Cak Narto) dengan peletakan batu pertama oleh Wapres Try Sutrisno.
Namun, penyelesaian Pembangunan agak tertunda akibat krisis moneter. Setelah peresmian pada tahun 2000 itu, Menteri Agama menetapkan status Masjid Al-Akbar sebagai Masjid Nasional berdasarkan Keputusan Menag Nomor 301 Tahun 2003.
“Untuk konsep Masa Kini dari Masjid Al-Akbar antara lain Studio Dakwah Digital (2010), Interior Tour (Ukiran/Kaligrafi/ Tata Lampu), Perpustakaan dan Pojok Baca Digital (POCADI), dan virtual tour (tour secara digital atau turis daring),” katanya.
Mulai tahun 2019, juga ada “masa kini” di bidang lingkungan dan rekreasi, diantaranya Taman Edupark (2019), taman urban farming (2020), Taman Asmaul Husna (2020), Menara 99m (2020), Green Toilet (2021), Air Mancur (2022), Green House atau Taman Melon (2022).
Selanjutnya, Ballroom untuk kegiatan publik seperti pernikahan pada 2022, Taman Peradaban atau bangunan ikon sejumlah provinsi pada 2023, dan BUMM (Badan Usaha Milik Masjid) pada 2023, ruang Al Akbar Muallaf Center pada 2024, termasuk mualaf asing, dan terkini ada Mini Soccer (2025) dan Toilet VIP Difabel (2026).
“Masjid Al-Akbar memiliki dua filosofi yakni Islam dan nasional. Kubah besar ada lima buah yang melambangkan Rukun Islam dan kubah kecil ada enam buah yang melambangkan Rukun Iman. Lima kubah besar juga melambangkan Pancasila dengan lima sila,” katanya.
Sementara itu, filosofi nasional terdapat pada mihrab di ruang utama setinggi 17 meter, ukiran bintang bersudut delapan di dinding utama, dan pintu berjumlah 45 buah yang semuanya melambangkan 17 Agustus 1945 atau tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia.
“Program ‘Healing Ramadhan 1447 H’ di Masjid Al-Akbar tidak hanya ada museum tapi juga ada Megengan dengan 1.447 apem (15/2), Majelis ‘One Day One Khatam’ pada setiap bakda Asar (1-30 Ramadhan), Ngaji Ngabuburit (1-30 Ramadhan 1447 H), cek kesehatan 200-an marbot (18-19 Februari 2026), donor darah, dan Liga Marbot Soccer (2-8 Maret 2026),” katanya. (*/mas)



