Surabaya, radar96.com – Guru Besar UINSA Surabaya yang juga Pembina Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya, Prof Dr KH Moh Ali Aziz, M.Ag, menegaskan bahwa ekspresi (sikap mengekspresikan diri) itu meniru Rasulullah dan ekspresi itu dapat menjadi terapi mental.
“Muslim itu ekspresif. Muslim itu senang mengekspresikan diri, senang bertanya, kalau dalam kehidupan keluarga itu selalu membicarakan masalah dalam keluarga, tidak dipendam, sebab masing-masing tidak tahu tanpa diekspresikan atau disampaikan/dikomunikasikan,” katanya dalam Kajian Senja di Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya, Rabu (4/3) petang.
Ia mencontohkan ekspresif ini bisa jelek dan baik. “Sehat, pak. Itu contoh yang baik. Contoh lain, kalau isteri pakai bedak, jilbab, sampean bilang, mama, sampean cantik ya? Itu ekspresif, meski dijawab dengan guyon/kelakar spontan dengan ucapan, preet,” katanya, disambut tawa oleh puluhan anggota Jamaah Tartil Bakda Subuh (JTBS) Masjid Al-Akbar Surabaya.



Contoh dari Nabi Muhammad SAW. Nabi menyambut isteri yang menyiapkan makanan dengan doa: “Ya, Allah, gantilah makanan surga untuk isteri yang sudah menyiapkan makanan”. Jadi, Rasulullah itu ekspresif. “Menyenangkan orang lewat kata itu bukan hanya menyenangkan makhluk, tapi menyenangkan Allah karena ciptaan-Nya dipuji dan menyenangkan Rasulullah karena umatnya berakhlak. Bahkan, malaikat pun senang,” katanya.
Di Barat itu, suami itu sering bilang “I Love You” meski sudah puluhan tahun menikah. “Jadi, jangan biasa-biasa saja, tapi jadilah Muslim Ekspresif. Ekspresif itu mirip ungkapan: ‘buah semangka, buah kedondong, suka atau tidak suka, ya ngomong dong…’ Jangan minder, karena bilang begitu bukan berarti ‘saru’, karena tiga surat terakhir dalam Al-Qur’an juga diawali dengan “Qul” (katakan) yaitu An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas,” katanya.
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud: Rasulullah pernah memegang tangan Sahabat Muadz bin Jabal dengan berkata ‘Ya Muadz, demi Allah, aku senang dirimu… Ya Muadz, jangan sekali-kali kamu tinggalkan doa ‘Allohumma Ainni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik’ (Ya, Allah bantulah aku untuk selalu ingat, selalu senang, dan jadikan ibadah kami yang terbaik). “Cara Nabi itu membuat Muadz senang sampai akhir hayat,” katanya.
Data penting disampaikan Menkes bahwa 28 persen orang Indonesia itu tidak sehat secara mental. “Itu berarti 1 dari 10 orang Indonesia mengalami masalah mental atau gangguan jiwa. Tanda-tanda tidak sehat mental itu pesimis dan iri kepada orang. Dalam studi ilmu jiwa, cara menghilangkan rasa sakit hati itu iman yang kuat dan ekspresif, misalnya mencurahkan dalam tulisan. Jadi, ekspresif itu bagian dari terapi,” katanya.
Jadi, ekspresif itu meniru Rasulullah dan dapat menjadi terapi mental. “Bagi kita, curhat kepada Allah pada malam hari itu dengan sujud. Curhat saja, ya Allah, saya masih seperti ini, anak saya belum mapan, saya curhat ya Allah. Nggak ada yang bisa mengubah kecuali Engkau,” katanya.
Ada yang bilang Budaya Jawa itu cenderung tertutup, bukan ekspresif. “Karena itu, ekspresi bagi orang Jawa itu memang berat, tapi hal seremeh itu bisa berdampak besar, misalnya menggandeng istri saat belanja itu sama dengan sayang, apalagi perceraian sekarang semakin tinggi. Jangan remehkan soal kecil, soal rambut yang nggak dicukur saja bisa membatalkan umroh,” katanya.
Bahkan, HP/handphone itu mungkin masalah kecil, tapi kalau sibuk main HP bisa membuat lupa mengucapkan “Assalamu’alaikum” dan terima kasih. “Soal sekecil ini sudah menjadi persoalam seluruh dunia. Ini buah dari tidak ada aturan negara bahwa umur dibawah 16 tahun nggak boleh pegang HP. Australia, Belgia, Jepang, sudah taubat dan melarang, karena bukan hanya karakter, tapi bunuh diri juga meningkat dengan AI, ngobrol dengan AI dan putus asa, lalu bunuh diri. Kalau belum diatur, curhat kepada Allah dan coba ajak dialog,” katanya. (*/hmn)



