By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Prof Ali Azis: Ekspresi itu meniru Rasulullah, Ekspresi itu terapi mental
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > Prof Ali Azis: Ekspresi itu meniru Rasulullah, Ekspresi itu terapi mental
Sospol

Prof Ali Azis: Ekspresi itu meniru Rasulullah, Ekspresi itu terapi mental

05/03/2026
SHARE

Surabaya, radar96.com – Guru Besar UINSA Surabaya yang juga Pembina Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya, Prof Dr KH Moh Ali Aziz, M.Ag, menegaskan bahwa ekspresi (sikap mengekspresikan diri) itu meniru Rasulullah dan ekspresi itu dapat menjadi terapi mental.

“Muslim itu ekspresif. Muslim itu senang mengekspresikan diri, senang bertanya, kalau dalam kehidupan keluarga itu selalu membicarakan masalah dalam keluarga, tidak dipendam, sebab masing-masing tidak tahu tanpa diekspresikan atau disampaikan/dikomunikasikan,” katanya dalam Kajian Senja di Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya, Rabu (4/3) petang.

Ia mencontohkan ekspresif ini bisa jelek dan baik. “Sehat, pak. Itu contoh yang baik. Contoh lain, kalau isteri pakai bedak, jilbab, sampean bilang, mama, sampean cantik ya? Itu ekspresif, meski dijawab dengan guyon/kelakar spontan dengan ucapan, preet,” katanya, disambut tawa oleh puluhan anggota Jamaah Tartil Bakda Subuh (JTBS) Masjid Al-Akbar Surabaya.

Contoh dari Nabi Muhammad SAW. Nabi menyambut isteri yang menyiapkan makanan dengan doa: “Ya, Allah, gantilah makanan surga untuk isteri yang sudah menyiapkan makanan”. Jadi, Rasulullah itu ekspresif. “Menyenangkan orang lewat kata itu bukan hanya menyenangkan makhluk, tapi menyenangkan Allah karena ciptaan-Nya dipuji dan menyenangkan Rasulullah karena umatnya berakhlak. Bahkan, malaikat pun senang,” katanya.

Di Barat itu, suami itu sering bilang “I Love You” meski sudah puluhan tahun menikah. “Jadi, jangan biasa-biasa saja, tapi jadilah Muslim Ekspresif. Ekspresif itu mirip ungkapan: ‘buah semangka, buah kedondong, suka atau tidak suka, ya ngomong dong…’ Jangan minder, karena bilang begitu bukan berarti ‘saru’, karena tiga surat terakhir dalam Al-Qur’an juga diawali dengan “Qul” (katakan) yaitu An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas,” katanya.

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud: Rasulullah pernah memegang tangan Sahabat Muadz bin Jabal dengan berkata ‘Ya Muadz, demi Allah, aku senang dirimu… Ya Muadz, jangan sekali-kali kamu tinggalkan doa ‘Allohumma Ainni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik’ (Ya, Allah bantulah aku untuk selalu ingat, selalu senang, dan jadikan ibadah kami yang terbaik). “Cara Nabi itu membuat Muadz senang sampai akhir hayat,” katanya.

Data penting disampaikan Menkes bahwa 28 persen orang Indonesia itu tidak sehat secara mental. “Itu berarti 1 dari 10 orang Indonesia mengalami masalah mental atau gangguan jiwa. Tanda-tanda tidak sehat mental itu pesimis dan iri kepada orang. Dalam studi ilmu jiwa, cara menghilangkan rasa sakit hati itu iman yang kuat dan ekspresif, misalnya mencurahkan dalam tulisan. Jadi, ekspresif itu bagian dari terapi,” katanya.

Jadi, ekspresif itu meniru Rasulullah dan dapat menjadi terapi mental. “Bagi kita, curhat kepada Allah pada malam hari itu dengan sujud. Curhat saja, ya Allah, saya masih seperti ini, anak saya belum mapan, saya curhat ya Allah. Nggak ada yang bisa mengubah kecuali Engkau,” katanya.

Ada yang bilang Budaya Jawa itu cenderung tertutup, bukan ekspresif. “Karena itu, ekspresi bagi orang Jawa itu memang berat, tapi hal seremeh itu bisa berdampak besar, misalnya menggandeng istri saat belanja itu sama dengan sayang, apalagi perceraian sekarang semakin tinggi. Jangan remehkan soal kecil, soal rambut yang nggak dicukur saja bisa membatalkan umroh,” katanya.

Bahkan, HP/handphone itu mungkin masalah kecil, tapi kalau sibuk main HP bisa membuat lupa mengucapkan “Assalamu’alaikum” dan terima kasih. “Soal sekecil ini sudah menjadi persoalam seluruh dunia. Ini buah dari tidak ada aturan negara bahwa umur dibawah 16 tahun nggak boleh pegang HP. Australia, Belgia, Jepang, sudah taubat dan melarang, karena bukan hanya karakter, tapi bunuh diri juga meningkat dengan AI, ngobrol dengan AI dan putus asa, lalu bunuh diri. Kalau belum diatur, curhat kepada Allah dan coba ajak dialog,” katanya. (*/hmn)

Iklan.

You Might Also Like

Wadah Komunikasi dan Koordinasi Dapur MBG Terbentuk di Surabaya

Pelantikan Pengurus Cabang JKSN se-Banten Perkuat Organisasi dan Peran Ulama

Siswa SMA Khadijah Surabaya Tembus Rusia lewat Beasiswa “Russian Government Scholarship”

Pelantikan PMII Airlangga, Wujudkan Semangat Kolaborasi Pendayagunaan Kader Islam Rohmatan Lil Alamin

Khutbah Jumat Syawal di Masjid Al-Akbar, Prof Mas’ud Said: Kemuliaan Tertinggi adalah Istiqomah pasca-Ramadhan

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Wakil Ketua Umum PP ISNU Tekankan Pentingnya “Spiritualitas Modern”
Next Article LPTNU Jatim Minta Intelektual NU Kembangkan Dakwah Berbasis Riset

Advertisement



Berita Terbaru

Dua Mahasiswi FKIP Unusa Juara Nasional Jujitsu, Cerminan Karakter Pendidik Masa Depan
Milenial
Wadah Komunikasi dan Koordinasi Dapur MBG Terbentuk di Surabaya
Sospol
Pelantikan Pengurus Cabang JKSN se-Banten Perkuat Organisasi dan Peran Ulama
Sospol
Gus Iqdam dan Wagub Jatim Luncurkan ”Talenta Digital Santri” Al Yasmin dengan 21 konfigurasi drone
Milenial

You Might also Like

Sospol

Khutbah Idul Fitri di Masjid Al-Akbar, Prof Ali Azis: Jadilah “Muslim Berdampak” Pasca Ramadhan

21/03/2026
Sospol

Gubernur Jatim Saksikan Rampak Bedug dan Takbir Idul Fitri di Masjid Al-Akbar Surabaya

20/03/2026
Sospol

DMI Jatim Luncurkan Program “Masjid Ramah Pemudik & Arus Balik” di Jombang

18/03/2026
Sospol

DMI Jatim Luncurkan Program “Masjid Ramah Pemudik- balik”

17/03/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?