Surabaya, radar96.com – Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya puasa jasmani dari lapar dan haus, namun juga “puasa” dari menebar konten yang tidak saleh.
“Dalam pandangan Kiai Sholeh Darat, yang merupakan guru Hadratussyeikh Kiai Hasyim Asy’ari, bahwa puasa tidak hanya menahan makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tapi juga menahan hawa nafsu dan menjaga perilaku,” kata Wakil Ketua LTN PWNU Jatim, HA Karomi, dalam Ngaji Kentong Ramadhan di PWNU Jatim, Surabaya, Jumat (6/3).

Dalam ngaji yang juga menghadirkan Ketua LTN PWNU Jatim H Helmy M Noor dan Wakil Ketua Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PWNU Jatim Dr H Abu Zarrin Al-Hamidy MAg itu, Karomi menjelaskan pihaknya menggali khazanah pemikiran ulama Nusantara dengan mengusung tema “Urgensitas Puasa Ruhani menurut KH Sholeh Darat”.
“Menurut Kiai Sholeh Darat, puasa memiliki tiga tingkatan. Pertama, puasa orang umum yang hanya menahan lapar dan dahaga. Kedua, puasa khusus yang juga menjaga diri dari perbuatan buruk seperti ghibah dan dusta. Ketiga, puasa khususil khusus, yakni puasa orang-orang yang hatinya senantiasa terhubung dengan Allah,” katannya.
Dalam konteks kekinian, pandangan Kiai Sholeh Darat itu sangat relevan di era digital. “Jadi, puasa hendaknya tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku, termasuk saat bermedia sosial agar tidak menyebarkan kebencian, hoaks, maupun provokasi,” katanya.
Padahal, salah satu karya KH Sholeh Darat yang terkenal adalah Tafsir Faidurrahman yang ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan aksara Pegonitu sudah berusia satu abad lebih. “Beliau sangat intens memperkenlkan ajaran Islam dengan pendekatan local wisdom (Bahasa Jawa) agar masyarakat lebih mudah memahami kandungan Al-Qur’an, apalagi RA Kartini juga muridnya,” katanya.
Dalam pengantarnya, Ketua LTNNU Jatim, H Helmy M Noor, menjelaskan salah satu ikhtiar LTNNU Jatim adalah menghidupkan kembali khazanah kitab klasik agar tetap relevan dengan kehidupan generasi masa kini.
“Kajian turats (manuskrip klasik) itu penting dilakukan agar generasi masa kini tetap terhubung dengan tradisi keilmuan ulama terdahulu, namun tetap memahami nilai-nilai Islam dengan pendekatan yang kontekstual yang ramah GenZI,” kata
pendiri Pondok Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya itu.
Sementara itu, Wakil Ketua Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PWNU Jatim Dr H Abu Zarrin Al-Hamidy MAg menekankan pentingnya fungsi sosial masjid. “Fungsi masjid tidak hanya dilaksanakan untuk ritual ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana sosial dalam membangun silaturahmi antar anggota masyarakat,” ujarnya.
Ia menyadari di beberapa tempat, masih ada masjid yang hanya dibuka saat waktu shalat lima waktu. “Hal itu tidak serta-merta dapat disalahkan. Bisa jadi karena pengurusnya terbatas atau karena faktor keamanan, misalnya pernah terjadi kehilangan sehingga pengelola masjid harus membatasi waktu buka, tapi saya yakin para takmir masjid akan menyambut baik anjuran pemerintah untuk membantu pemudik yang kelelahan di jalan,” ujarnya. (*/fpnu)



