Surabaya, radar96.com – Saat menyampaikan Ceramah Subuh di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Sabtu (7/3) pagi, Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar mengharapkan masyarakat jangan menyalahkan orang dari potongan ceramah, seperti yang dialami dirinya terkait paparan tentang zakat 2,5 persen di Jakarta (26/2).
“Jangan salahkan orang dari potongan ceramah, barangkali kita belum sampai kepada apa yang dimaksud penceramah itu. Itu seperti seorang sufi Al-Hallaj (858-922 M) yang dieksekusi mati, karena dianggap sesat, tapi darah yang mengalir dari tubuhnya akhirnya membentuk ‘la ilaha illallah’ untuk penunjuk bahwa dia benar,” katanya di hadapan Kepala Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS Dr KHM Sudjak MAg dan pengurus lain.

Dalam ceramah yang dihadiri 1.000-an jamaah laki-laki dan perempuan di Masjid Al-Akbar itu, Menag menjelaskan potongan pernyataannya yang viral itu bukan dirinya menganggap zakat itu tidak wajib, namun pemberdayaan umat itu tidak cukup hanya dengan zakat, tapi ada wakaf, infak, sedekah, dan banyak pundi-pundi mal yang perlu dioptimalkan, agar kemiskinan umat pun teratasi.
“Mari kita jadikan Masjid Al-Akbar ini sebagai contoh dalam ikhtiar optimalisasi dana sosial keagamaan untuk pemberdayaan jamaah. Di Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab melalui Kementerian Wakaf pun mampu menghimpun dana sosial keagamaan hingga 25-40 persen untuk pemberdayaan masyarakat agar lebih produktif dan berkelanjutan secara sosial dan ekonomi,” katanya.

Oleh karena itu, menteri yang juga Wakil Rais Aam Syuriyah PBNU itu mengajak jamaah untuk mengevaluasi Ramadhan dengan mempertanyakan posisi martabat beragama saat ini, apakah di bawah/turun atau di atas/naik ? “Segala sesuatu itu diciptakan dengan martabat, ada martabat di bawah, ada martabat di atas. Manusia juga awalnya dari langit, lalu turun/jatuh ke bumi, nantinya naik ke langit lagi,” katanya.
Menurut Menag, Rasulullah sendiri memerintahkan umatnya untuk selalu melakukan “upgrade” martabat atau meningkatkan diri dari martabat yang turun menjadi naik. “Al-Quran sendiri juga mengajak ‘wahai orang beriman, berimanlah’. Maksudnya bukan tidak beriman agar beriman, tapi meningkatkan keimanan. Ajakan untuk bertakwa sebatas kemampuan juga bukan berarti minimal tapi ajakan untuk semaksimal mungkin,” katanya.
Demikian juga halnya dengan sabar, syukur, dan saleh/baik. Jangan hanya air susu dibalas air tuba, atau air susu dibalas air susu, atau air tuba dibalas air tuba, tapi akan lebih hebat lagi kalau air tuba dibalas air susu. “Hati dan mulut harus itu sama-sama indahnya. Bersyukur itu bukan hanya menerima kebaikan dengan berbagi, tapi kita juga mensyukuri apapun, termasuk musibah, karena kita harus yakin bahwa segala yang bersumber dari Allah itu baik. Jangan benci dengan musibah, tapi bersahabatlah dengan musibah,” katanya.
Oleh karena itu, puasa Ramadhan juga harus meningkatkan martabat, baik meningkat biasa, meningkat lebih cepat, maupun meningkat lebih cepat lagi. “Jangan hanya puasa saat Ramadhan tapi jadikan Ramadhan untuk meningkatkan martabat ketaatan. Taat jangan karena wajib (berpuasa), tapi taat karena cinta. Kalau puasa dipahami hanya sebatas wajib, maka kita akan terbebani dengan kewajiban,” katanya.
Dalam beragama, katanya, martabat itu ada dua tahapan yakni ahli taat dan ahli ibadah (ahlul-Lah). Ahli taat itu memahami taat sebagai kewajiban atau beban. Kalau ahli ibadah (ahlul-Lah) itu memahami ibadah tanpa beban, karena beribadah untuk cinta.
“Kalau ahli taat itu formalitas. Ahli taat itu kalau shalat justru di akhir waktu. Ahli taat itu kalau puasa hanya lapar dan haus, tapi mulut masih ngoceh aib orang, telinga masih ngerumpi, mata masih melihat secara kotor. Itu berbeda dengan ahli ibadah yang betul-betul menghayati ibadah, baik mulut maupun sikap, bahkan kalau khilaf pun langsung minta ampun. Wudhu ahli taat itu hanya membasuh, tapi kalau ahli ibadah itu fokus ke otak, sehingga wudhu dengan membasuh kepala, tangan, dan kaki juga menahan dari ‘kotoran’ bohong, ngerumpi, bahas aib, dan sebagainya,” katanya.
Tidak hanya wudhu dan sholat, tapi puasa juga bermakna pembersihan lahir dan batin. “Bukan fiqih saja, tapi spiritualitas, bukan lahir saja, tapi batin juga. Puasa bukan hanya baju, jilbab, celana, sarung, dan sebagainya, tapi juga takut kepada Allah dan yakin kalau Allah bersama kita. Hidup menjadi lekat dengan Tuhan, baik duduk, berdiri, dan berjalan sama-sama fokus ke Allah. Bukan hanya ibadah bumi, tapi juga ibadah langit,” katanya.
Saat mengawali ceramah, juga mengajak jamaah Masjid Al-Akbar untuk membaca Fatihah yang dipersembahkan kepada Almarhum Try Sutrisno yang merupakan pendiri Masjid Al-Akbar dan sejumlah masjid lain yang wafat pada 2 Maret 2026. Selain itu, Menag juga sempat menyerahkan bantuan sosial keagamaan senilai Rp100 juta kepada BPP MAS. (*/mas)



