Bondowoso, radar96.com – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Partai Gerindra, Ahmad Hadinuddin, S.Pd.I., meminta pembangunan Jembatan Sentong yang menghubungkan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember tidak berlarut-larut.
Menurutnya, percepatan penyelesaian proyek menjadi hal yang mendesak, mengingat besarnya dampak yang ditanggung masyarakat sejak jembatan tersebut ambruk beberapa bulan lalu.
Pernyataan itu disampaikan Ahmad Hadinuddin saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Bondowoso, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, keberadaan Jembatan Sentong sangat penting karena menjadi salah satu akses utama yang selama ini menunjang mobilitas masyarakat, distribusi barang, dan aktivitas ekonomi antarwilayah.
“Agar pembangunan Jembatan Sentong cepat selesai, maka perlu dilakukan percepatan. Pemerintah daerah Bondowoso harus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah di atasnya,” kata Ahmad Hadinuddin.
Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Jatim IV tersebut menilai percepatan pembangunan membutuhkan komunikasi yang lebih intensif antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pihak pelaksana proyek.
Menurutnya, seluruh pihak harus duduk bersama untuk mengevaluasi progres pekerjaan sekaligus mencari solusi atas berbagai kendala yang mungkin muncul selama proses pembangunan berlangsung.
“Harus segera dibicarakan dengan pihak ketiga. Jika memang menjadi kewenangan atau kebijakan provinsi, maka perlu melibatkan pemerintah provinsi agar ada percepatan penyelesaian,” ujarnya.
Ahmad mengatakan bahwa dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat saat ini adalah terganggunya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan jembatan. Banyak masyarakat yang sebelumnya menggantungkan aktivitas usahanya pada lalu lintas kendaraan di jalur tersebut kini harus menghadapi penurunan aktivitas ekonomi.
Selain itu, mobilitas masyarakat yang biasanya berlangsung lancar kini harus menempuh jalur alternatif dengan jarak yang lebih panjang.
“Yang paling signifikan adalah dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar jembatan. Arus mobilisasi masyarakat pada momen-momen tertentu juga pasti sangat terdampak,” tegasnya.
Menurut Ahmad, kondisi tersebut tidak boleh berlangsung terlalu lama karena akan memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Ia juga menyoroti meningkatnya beban lalu lintas pada sejumlah ruas jalan alternatif yang digunakan selama proses pembangunan berlangsung.
Pengalihan arus kendaraan, kata dia, mulai berdampak terhadap kualitas sejumlah jalan yang mengalami kerusakan akibat tingginya intensitas kendaraan.
Karena itu, Ahmad meminta pihak pelaksana proyek untuk memaksimalkan pekerjaan yang sedang berjalan agar target penyelesaian dapat tercapai tepat waktu.
“Dengan anggaran kurang lebih Rp17 miliar, tentunya pengerjaan harus dimaksimalkan oleh pihak ketiga. Seharusnya memperbanyak tenaga kerja dan tidak hanya dikerjakan secara manual, tetapi juga menggunakan alat-alat yang dapat menunjang percepatan pembangunan,” katanya.
Sebagai informasi, Jembatan Sentong ambruk pada Senin malam, 23 Februari 2026, setelah diterjang derasnya arus Sungai Silo Lembu akibat hujan dengan intensitas tinggi.
Jembatan yang berada di perbatasan Kelurahan Nangkaan dan Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso tersebut merupakan salah satu jembatan tua yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Sebelum ambruk total, konstruksi bangunan dilaporkan telah mengalami keretakan akibat faktor usia.
Peristiwa itu menyebabkan sebagian badan jalan ambles dan membentuk lubang besar yang membahayakan pengguna jalan. Akibatnya, jalur utama Bondowoso–Jember yang selama ini menjadi salah satu akses vital masyarakat harus ditutup total.
Sebelum kejadian ambruk, Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebenarnya telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp17,5 miliar untuk renovasi Jembatan Sentong yang direncanakan mulai dikerjakan pada April 2026.
Namun karena kondisi darurat, pemerintah mengambil langkah percepatan melalui mekanisme diskresi sehingga proses pembangunan dapat dimulai lebih awal sejak Ramadan 1447 Hijriah.
Saat ini, pembangunan jembatan permanen masih berlangsung dengan target penyelesaian sekitar delapan bulan.
Ahmad Hadinuddin berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dan mengawal proses pembangunan hingga selesai sehingga masyarakat tidak terlalu lama menanggung dampak akibat terputusnya akses penghubung utama antara Bondowoso dan Jember.
Menurutnya, penyelesaian Jembatan Sentong bukan hanya berkaitan dengan pembangunan fisik semata, tetapi juga menyangkut pemulihan ekonomi masyarakat, kelancaran distribusi logistik, serta peningkatan konektivitas wilayah di kawasan tapal kuda.
“Yang terpenting sekarang adalah bagaimana pembangunan ini bisa segera selesai sehingga manfaatnya kembali dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (*/Rif)



