Oleh : Misbahul Munir *
Menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Tambakberas Jombang, 27–31 Agustus 2026
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama akan menjadi peristiwa penting dalam perjalanan jam’iyah. Berdasarkan keputusan PBNU, muktamar akan dilaksanakan pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Jombang bukan sekadar tempat, Jombang adalah tanah pesantren. Tanah para kiai, ruang sejarah tempat denyut perjuangan NU tumbuh dan berkembang.
Karena itu muktamar bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan. Muktamar adalah ruang khidmah, tempat para ulama, kiai, dan pengurus bermusyawarah menentukan arah perjalanan organisasi ke depan, karena itu menjelang muktamar suasana seharusnya tidak semakin gaduh apalagi panas. Perbedaan pilihan tidak semestinya berubah menjadi permusuhan, dukungan kepada seseorang tidak boleh menghilangkan penghormatan kepada yang lain.
Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan kesantunan. Kita boleh berkompetisi, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.
Nahdlatul Ulama dibangun dengan adab.
Para muassis mengajarkan kepada kita bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak. Kepandaian tidak boleh melahirkan kesombongan. Kekuasaan tidak boleh menghilangkan ketawadhuan. Bahkan dalam perbedaan, kehormatan sesama harus tetap dijaga.
Muktamar Bukan Medan Pertempuran
Akhir-akhir ini, setiap kontestasi organisasi mudah berubah menjadi pertarungan opini. Media sosial menjadi arena saling menyerang. Potongan pernyataan disebarkan. Kesalahan dicari. Kecurigaan dibangun.
Jika tidak berhati-hati, kita dapat terjebak dalam suasana seolah-olah orang yang berbeda pilihan adalah lawan yang harus dikalahkan.
Padahal setelah muktamar selesai, kita akan kembali duduk dalam majelis yang sama, kita akan membaca shalawat yang sama, kita akan berziarah ke makam para muassis yang sama dan kita akan berkhidmah di rumah besar yang sama yaitu Nahdlatul Ulama.
Nahdlatul Ulama bukan milik satu kelompok. Bukan milik satu kepengurusan. Bukan pula milik satu generasi. NU adalah amanah sejarah.
Jangan karena ingin memenangkan satu muktamar, kita meninggalkan luka yang membutuhkan bertahun-tahun untuk menyembuhkannya.
Santun Bukan Berarti Lemah
Kesantunan terkadang dianggap sebagai kelemahan.
Orang yang tidak berteriak dianggap tidak berani, orang yang tidak menyerang dianggap tidak mempunyai sikap, padahal para kiai mengajarkan bahwa ketegasan tidak harus kasar, kebenaran tidak membutuhkan cacian, dan perbedaan tidak harus disampaikan dengan merendahkan.
Santun adalah kemampuan menjaga akhlak ketika kita sebenarnya mampu membalas.
Muktamar yang santun bukan berarti tanpa kritik, kritik tetap diperlukan, evaluasi harus dilakukan, kesalahan harus diperbaiki, tetapi kritik dapat disampaikan dengan argumentasi.
Data dilawan dengan data, gagasan dijawab dengan gagasan, bukan dengan penghinaan, fitnah, atau pembunuhan karakter.
Kembalikan Muktamar kepada Musyawarah
Kata muktamar mengandung makna berkumpul dan bermusyawarah, karena itu, ruh muktamar seharusnya adalah syura.
وشاورهم فى الامر
Para peserta datang membawa pikiran, mendengarkan pandangan, mempertimbangkan kemaslahatan, Kemudian mengambil keputusan.
Dalam tradisi pesantren, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang biasa.
Para ulama berbeda, Para fuqaha berbeda, namun mereka mewariskan kepada kita adab al-ikhtilaf—etika dalam perbedaan. Mungkin kita perlu kembali belajar satu hal sederhana:
Berbeda tanpa membenci. Mendukung tanpa mencaci. Menang tanpa menyombongkan diri. Kalah tanpa kehilangan khidmah.
Para Kiai Harus Tetap Menjadi Mata Air Kesejukan
Dalam situasi yang memanas, umat melihat kepada para kiai. Satu kalimat kiai dapat menenangkan ribuan orang, tetapi satu kalimat yang keras juga dapat ditafsirkan dan disebarkan ke mana-mana. Karena itu, menjelang muktamar, suara para alim dan sesepuh harus menjadi mata air kesejukan. Kiai tidak seharusnya ditarik terlalu jauh ke dalam kegaduhan, kehormatan mereka harus dijaga, nasihat mereka harus didengar.
Ketika anak-anak muda mulai meninggikan suara, sudah waktunya kita kembali duduk di hadapan para sesepuh.
Bukan karena sesepuh selalu mengetahui seluruh persoalan teknis, tetapi karena perjalanan panjang sering melahirkan kebijaksanaan yang tidak dapat diperoleh dari kegaduhan media sosial.
Mari Membuat Muktamar yang Menyejukkan, muktamar akan selesai, ketua akan terpilih, pengurus akan dibentuk foto-foto kemenangan akan beredar, tetapi NU akan terus berjalan, karena itu, ukuran keberhasilan muktamar bukan hanya siapa yang menang.
Ukuran yang lebih besar adalah:
Apakah setelah muktamar NU semakin utuh, Apakah para kiai semakin dihormati, Apakah jamaah semakin percaya, Apakah perbedaan dapat dipertemukan kembali dalam khidmah ?
Mari kita hadirkan Muktamar yang Santun dan Menyejukkan. Muktamar yang penuh gagasan. Muktamar yang menghormati sesepuh. Muktamar yang memberi ruang kepada generasi muda. Muktamar yang keras dalam membahas persoalan umat, tetapi lembut dalam memperlakukan saudara.
Sebab kita tidak sedang mencari siapa yang paling kuat di antara kita. Kita sedang mencari siapa yang paling siap memikul amanah khidmah.
Boleh berbeda pilihan, tetapi tetap bersalaman.
Boleh berbeda pandangan, tetapi tetap satu barisan.
Boleh berkompetisi, tetapi jangan kehilangan akhlak.
Muktamar akan berlalu. Persaudaraan harus tetap tinggal.
Mari bermuktamar dengan santun.
Mari berbeda dengan adab.
Mari berkhidmah dengan teduh, karena NU terlalu besar untuk dipertaruhkan hanya karena perbedaan pilihan sesaat.
*Wakil katib PWNU Jatim



