Oleh : Maksum Zuber ( Mantan Sekjen Pimpinan Pusat IPNU )
Kritik dan tumpahan emosi di public warga nahdliyin terhadap Nahdlatul Ulama (NU) umumnya berakar dari ketegangan antara idealisme khittah organisasi dengan realitas politik praktis para elit. Istilah “memuntahkan” menggambarkan pelepasan beban emosional, kekecewaan, atau amarah masyarakat (termasuk warga Nahdliyin sendiri) yang selama ini terpendam melihat dinamika internal organisasi.
Katarsis adalah proses pelepasan atau pelampiasan emosi mendalam – seperti rasa sedih, marah, atau kecewa yang selama ini terpendam di dalam batin. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti pemurnian atau pembersihan jiwa.[1]
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia selalu berada dalam pusaran dinamika sosial, keagamaan, dan politik nasional. Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35, NU berada pada titik kulminasi krusial yang menuntut refleksi mendalam. Istilah “memuntahkan isi perut NU” menjadi sebuah metafora sosiologis yang menggambarkan proses katarsis, pembersihan diri, serta pembongkaran berbagai persoalan laten yang selama ini tersimpan di dalam tubuh organisasi. Proses ini bukan sekadar pergolakan politik internal, melainkan sebuah fase krusial bagi NU untuk menghadapi kenyataan dirinya sendiri demi merumuskan arah baru di abad kedua keberadaannya.
Poin-poin yang memicu respons katarsis dari publik terhadap NU:
- Terseret dalam Irama Politik Praktis :
- Publik sering melihat adanya ketidakselarasan antara jargon “kembali ke Khittah 1926” (netralitas politik) dengan manuver nyata para tokoh elite di panggung politik nasional.
- Konflik internal atau perbedaan pandangan antar-lembaga di dalam struktur—seperti antara Syuriyah (dewan ulama) dan Tanfidziyah (pelaksana harian)—sering kali terbaca oleh publik sebagai perebutan pengaruh, terutama menjelang momentum besar seperti Muktamar.[2]
- Pergeseran Otoritas Tradisional :
- Struktur kultural NU yang sangat patuh pada kiai kini menghadapi tantangan dari generasi muda digital yang lebih kritis.
- Kekecewaan publik sering kali menjadi gema dari kegelisahan warga akar rumput yang merasa suara dan kebutuhan riil mereka terabaikan oleh dinamika politik elite di tingkat pusat.[3]
- Moral, Integritas dan Anti Korupsi :
- Sebagai organisasi Islam terbesar, publik meletakkan standar moral yang sangat tinggi kepada NU.
- Media sosial menjadi saluran utama di mana publik “memuntahkan” kritik, meme, dan diskusi terbuka demi menuntut tata kelola organisasi yang lebih transparan, akuntabel, dan konsisten pada nilai-nilai dasar.
- Nahdlatul Ulama (NU) memandang korupsi sebagai kejahatan serius yang merusak keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Organisasi ini mendorong gerakan moral, pendidikan anti-korupsi di pesantren, serta pendekatan fiqih untuk melawan tindakan memperkaya diri dengan cara yang batil[4]
Menjadi alarm penting bagi kepengurusan organisasi NU untuk terus berbenah, menjaga reputasi, serta memastikan bahwa gerak langkah jam’iyah tetap sejalan dengan lima prinsip dasarnya: Tasamuh (toleransi), Tasawuth (moderat), I’tidal (keadilan), Tawazun (keseimbangan), dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.[5]
Secara historis, NU didirikan sebagai wadah perjuangan ulama dalam menjaga tradisi keislaman inklusif dan mengawal kemerdekaan bangsa. Namun, seiring berjalannya waktu, skala organisasi yang masif membawa konsekuensi kompleksitas yang besar. Menjelang Muktamar ke-35, ketegangan antara idealisme khittah sosioreligius dengan pragmatisme politik praktis kembali mengemuka ke permukaan.
Keterlibatan secara langsung maupun tidak langsung dalam kontestasi politik elektoral nasional belakangan ini telah meninggalkan residu ketegangan di tingkat elite hingga akar rumput. Gejala ini memicu apa yang disebut sebagai proses “memuntahkan” seluruh beban struktural, faksionalisme, dan benturan kepentingan yang selama ini terakumulasi di dalam organisasi.
Pertama, Tarik-menarik kepentingan politik seringkali mengaburkan fokus utama NU dalam pemberdayaan umat di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Kedua, tantangan regenerasi kepemimpinan. Muktamar ke-35 menjadi medan ujian apakah NU mampu melahirkan kepemimpinan yang adaptif terhadap era digital dan perubahan geopolitik, tanpa kehilangan jangkar spiritualitas pesantren. Ketiga, tuntutan transparansi dan tata kelola organisasi yang modern. Suara-suara kritis dari kalangan kader muda dan kaum struktural daerah yang menuntut perubahan manajemen merupakan representasi dari isi perut organisasi yang bergolak dan menuntut perbaikan.
Metafora “memuntahkan isi perut” pertanda adanya penyakit-penyakit internal, seperti pragmatisme, birokratisasi berlebihan, dan melemahnya tradisi tabayyun di tingkat elite. Proses ini memang terasa menyakitkan dan menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Kendati demikian, dalam kacamata perubahan organisasi, fase ini sangat sehat dan diperlukan. Tanpa adanya keberanian untuk mengeluarkan seluruh sumbatan dan penyakit organisasi tersebut, Muktamar ke-35 dikhawatirkan hanya akan menjadi ritual seremonial pergantian kekuasaan tanpa substansi transformasi.
Oleh karena itu, Menjelang Muktamar ke-35 NU, untuk memetakan secara objektif anatomi konflik, tantangan institusional, dan peluang refleksi yang sedang terjadi. Melalui analisis yang tajam dan jujur, agar momentum Muktamar ke-35 tidak terjebak pada pragmatisme jangka pendek. Sebaliknya, momentum ini harus dijadikan sebagai titik balik (turning point) bagi NU untuk melakukan pembersihan internal, meneguhkan kembali Khittah 1926, dan melangkah menuju abad kedua dengan komitmen yang lebih murni terhadap umat dan bangsa
Saran dan Kesimpulan :
Pertama, Pemulihan Etika dan Spiritual
- Memegang Teguh Qonun Asasi Nahdlatul Ulama.
- Mengedepankan suara hati nurani dan istikharah dibanding bisyarah atau politik uang dalam menentukan kepemimpinan.
- Menjadikan muktamar sebagai ajang Muhasabah dan Eksplorasi Gagasan.
- Memperkuat Anti Korupsi, memperkecil dampak buruk Kolusi dan Nepotisme.
Kedua, Transformasi Strategis Abad Kedua
- Memajuan Ilmu Pengetahuan, Tehnologi dan Industrialisasi berbasis Pesantren
- Mengubah orientasi NU dari sekadar modal atau komoditas politik elektoral menjadi kekuatan penggerak kesejahteraan ekonomi warga.
- Memadukan tradisi keulamaan dengan kapasitas SDM profesional dan teknologi modern.
[1] https://www.alodokter.com/memahami-katarsis-pelepasan-emosi-yang-baik-untuk-kesehatan-mental
[2]https://www.nu.or.id/opini/konflik-elite-nu-dan-pergeseran-otoritas-tTMTB
[3] https://www.nu.or.id/opini/konflik-elite-nu-dan-pergeseran-otoritas-tTMTB
[4] https://lampung.nu.or.id/literasi/garis-khidmat-perjuangan-nahdlatul-ulama-cegah-korupsi-di-indonesia-BWAzW
[5] file:///C:/Users/ASUS/Downloads/3674-Article%20Text-15057-1-10-20250304.pdf



