By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Merajut Kembali Jejaring di Tubuh Nahdlatul Ulama
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Merajut Kembali Jejaring di Tubuh Nahdlatul Ulama
Kolom

Merajut Kembali Jejaring di Tubuh Nahdlatul Ulama

12/08/2026 Kolom
SHARE

Oleh : Nonot S mono*

Merajut kembali jejaring di tubuh Nahdlatul Ulama ( NU) memerlukan rekonsiliasi kultural dan struktural pasca dinamika elite. Langkah utamanya mencakup penguatan kembali Khittah 1926, dialog terbuka antar-insan pimpinan, serta pemulihan fokus organisasi pada pelayanan umat, pendidikan, dan kemandirian ekonomi warga di akar rumput.

Akar Persoalan dan Dampak terjadinya gesekan adalah diawali dari ; Yang pertama gesekan elite. Perbedaan pandangan antara unsur Syuriyah, Tanfidziyah, dan jajaran pengurus sempat mencuat ke ruang publik. ke dua isu strategis. Perdebatan kebijakan luar organisasi, tata kelola sumber daya, hingga arah politik praktis memicu jarak komunikasi. ke tiga kecemasan akar rumput. Warga di tingkat ranting dan cabang merasakan kebingungan akibat narasi elite yang tidak selaras dengan kesejukan tradisi pesantren.

Langkah Strategis Rekonsiliasi (Islah) di NU yang lebih mendasar adalah :

 Pengembalian Khittah : Menempatkan kembali NU sebagai jam’iyah diniyah Islamiyah yang tidak terjebak dalam kepentingan politik sesaat.

Musyawarah Menyeluruh: mengutamakan tabayyun dan penyelesaian masalah internal melalui forum musyawarah resmi seperti Muktamar atau Musyawarah Nasional.

Revitalisasi Jaringan: Mengaktifkan kembali komunikasi produktif antara pengurus besar, wilayah, daerah, hingga majelis wakil cabang.

Visi Kebangkitan ke Depan

Fokus Umat: Mengembalikan energi organisasi untuk mengurus pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan pesantren.

Merawat Persatuan: Menjaga keutuhan jam’iyah agar tetap menjadi pilar moderasi beragama di Indonesia.

Pendekatan Kultural: Mengetuk Hati Lewat Tradisi Pesantren

Jika struktur adalah raganya, maka kultur pesantren adalah jiwa dari Nahdlatul Ulama. Pendekatan ini menyentuh aspek emosional dan spiritual yang tidak bisa diselesaikan oleh selembar surat keputusan (SK). misalnya,Tradisi Sowan, Silaturahmi, dan Tabayyun, Restorasi Akhlak dan Etika Santri (Adab), Majelis Istighosah dan Tabligh sebagai Perekat, Fokus Pembelaan dan Pemberdayaan Warga

Satu Komando, Satu Jemaah

Merajut kembali jejaring NU yang sempat koyak berarti menyatukan ketegasan hukum struktural dengan kelembutan kasih sayang kultural. Aturan organisasi memberikan batas-batas yang jelas agar jam’iyah tidak melenceng, sementara ikatan batin pesantren memastikan seluruh warga NU tetap merasa berada dalam satu rumah besar yang hangat dan teduh.

*) Penulis adalah Pendidik, Praktisi Seni dan Budaya

Iklan.

You Might Also Like

Menembus Batas, Merekat Umat Tujuh Tahun Terase NU NEWS Mewarnai Ruang Digital

Wajah Digital NU di Muktamar Tambakberas 2026

Ketika Medsos Gaduh, Akar Rumput Tetap Teduh

Dari Hutan untuk Peradaban: Ketika Kepemimpinan Khofifah Mengubah Kelestarian Menjadi Kesejahteraan

Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Menguatkan AHWA: Mengubah Kontestasi Menjadi Musyawarah, Mengubah Faksionalisme Menjadi Ukhuwah
Next Article Proses Katarsis; NU sedang Memuntahkan ke Publik, Menjelang Muktamar ke-35 NU

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Gus Fahrur: Gus Firjaun yang Saya Kenal
Gus File
PW IPPNU Jawa Timur Perkuat Sinergi dengan Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur
Uncategorized
TK At-Taqwa Bondowoso Peringati Maulid Nabi dengan Festival Ancak Ceria
Uncategorized
Setiap Kamis, Remas-GenZI Masjid Al-Akbar Surabaya Adakan Majelis Sholawat Al-Akbar
Milenial

You Might also Like

Kolom

Ketika Sampah Berubah Menjadi Energi Peradaban: Khofifah dan Arsitektur Jawa Timur ASRI, Inovatif, dan Berkelanjutan

01/09/2026
Kolom

Membaca Tiga Spektrum KepemimpinanKiai Miftah–Gus Yahya, Refleksi Kiai Sahal Mahfudz–Gus Dur, dan Warisan Diplomasi Peradaban Abah Hasyim Muzadi

01/09/2026
Kolom

PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader

31/08/2026
Kolom

Musyawarah, Hikmah dan Khidmah

31/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?