Oleh : Nonot S mono*
Merajut kembali jejaring di tubuh Nahdlatul Ulama ( NU) memerlukan rekonsiliasi kultural dan struktural pasca dinamika elite. Langkah utamanya mencakup penguatan kembali Khittah 1926, dialog terbuka antar-insan pimpinan, serta pemulihan fokus organisasi pada pelayanan umat, pendidikan, dan kemandirian ekonomi warga di akar rumput.
Akar Persoalan dan Dampak terjadinya gesekan adalah diawali dari ; Yang pertama gesekan elite. Perbedaan pandangan antara unsur Syuriyah, Tanfidziyah, dan jajaran pengurus sempat mencuat ke ruang publik. ke dua isu strategis. Perdebatan kebijakan luar organisasi, tata kelola sumber daya, hingga arah politik praktis memicu jarak komunikasi. ke tiga kecemasan akar rumput. Warga di tingkat ranting dan cabang merasakan kebingungan akibat narasi elite yang tidak selaras dengan kesejukan tradisi pesantren.
Langkah Strategis Rekonsiliasi (Islah) di NU yang lebih mendasar adalah :
Pengembalian Khittah : Menempatkan kembali NU sebagai jam’iyah diniyah Islamiyah yang tidak terjebak dalam kepentingan politik sesaat.
Musyawarah Menyeluruh: mengutamakan tabayyun dan penyelesaian masalah internal melalui forum musyawarah resmi seperti Muktamar atau Musyawarah Nasional.
Revitalisasi Jaringan: Mengaktifkan kembali komunikasi produktif antara pengurus besar, wilayah, daerah, hingga majelis wakil cabang.
Visi Kebangkitan ke Depan
Fokus Umat: Mengembalikan energi organisasi untuk mengurus pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan pesantren.
Merawat Persatuan: Menjaga keutuhan jam’iyah agar tetap menjadi pilar moderasi beragama di Indonesia.
Pendekatan Kultural: Mengetuk Hati Lewat Tradisi Pesantren
Jika struktur adalah raganya, maka kultur pesantren adalah jiwa dari Nahdlatul Ulama. Pendekatan ini menyentuh aspek emosional dan spiritual yang tidak bisa diselesaikan oleh selembar surat keputusan (SK). misalnya,Tradisi Sowan, Silaturahmi, dan Tabayyun, Restorasi Akhlak dan Etika Santri (Adab), Majelis Istighosah dan Tabligh sebagai Perekat, Fokus Pembelaan dan Pemberdayaan Warga
Satu Komando, Satu Jemaah
Merajut kembali jejaring NU yang sempat koyak berarti menyatukan ketegasan hukum struktural dengan kelembutan kasih sayang kultural. Aturan organisasi memberikan batas-batas yang jelas agar jam’iyah tidak melenceng, sementara ikatan batin pesantren memastikan seluruh warga NU tetap merasa berada dalam satu rumah besar yang hangat dan teduh.

*) Penulis adalah Pendidik, Praktisi Seni dan Budaya



