By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: NU adalah Amanah Umat, Bukan Milik Siapa-siapa
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > NU adalah Amanah Umat, Bukan Milik Siapa-siapa
Kolom

NU adalah Amanah Umat, Bukan Milik Siapa-siapa

16/08/2026 Kolom
SHARE

Oleh: Sudarsono Rahman/ Cak Dar

Merawat Perjuangan Para Muassis, Menjaga Ruh Ulama, dan Menghidupkan NU untuk Kemaslahatan Umat dan Bangsa.

Menjelang Muktamar NU ke-35, ada satu pertanyaan sederhana yang penting direnungkan : NU ini sebenarnya milik siapa?

Pertanyaan ini bukan sekadar tentang siapa yang akan menjadi Rais Aam, Ketua Umum, atau siapa yang paling banyak memperoleh dukungan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah : untuk siapa NU dilahirkan dan kepada siapa amanah NU ditujukan ?.

Jawabannya sederhana : NU adalah amanah umat.
NU tidak diwariskan sebagai harta keluarga, NU tidak diwariskan kepada dzuriyah, elite, atau kelompok tertentu. Kalau NU disebut sebagai warisan, maka ia adalah warisan perjuangan, ilmu, akhlak, tradisi dan amanah para muassis untuk umat dan bangsa.
Karena itu, menghormati muassis dan dzuriyah bukan berarti menjadikan NU sebagai milik keluarga, justru semakin dekat seseorang dengan mata rantai sejarah NU, semakin besar tanggung jawab moralnya untuk memastikan NU tetap menjadi rumah umat.

Warisan Itu Bukan Kepemilikan

Para muassis NU tidak membangun organisasi untuk memperbesar kekuasaan pribadi, Mereka membangun wadah perjuangan untuk menjaga Agama, mengembangkan Ilmu, merawat Tradisi, membela Masyarakat dan ikut menjaga Indonesia.
Maka warisan para muassis jangan dipahami seperti warisan tanah atau rumah yang berpindah berdasarkan garis keturunan.
NU bukan sertifikat yang diwariskan, NU adalah amanah yang harus dihidupkan.
Dzuriyah memiliki tempat terhormat, Ulama memiliki kedudukan mulia, tetapi penghormatan itu tidak boleh berubah menjadi klaim kepemilikan.
Yang diwariskan para muassis bukanlah kursi, tetapi ruh perjuangan.
Bukan jabatan, tetapi pengabdian.
Bukan kekuasaan, tetapi kemaslahatan.

Memiliki Berarti Menjaga

Ada perbedaan antara memiliki dan menguasai,
Warga NU berhak mengatakan, “NU adalah milik saya”, tetapi memiliki berarti merasa bertanggung jawab, ikut menjaga, ikut merawat, dan tidak tega melihat NU rusak karena kepentingan kelompok.
Rumah yang kita miliki tentu kita rawat, kalau genteng bocor kita perbaiki, kalau tembok retak kita kuatkan, bukan malah berebut ruang tamu sementara atap rumah dibiarkan roboh.
Karena itu, jangan sampai menjelang Muktamar perhatian kita hanya tersedot pada pertanyaan siapa mendapatkan jabatan, sementara persoalan umat semakin jauh dari perhatian.
Muktamar jangan hanya menjadi forum menentukan siapa yang memimpin NU, Muktamar harus menjadi forum menentukan apa yang akan dilakukan NU untuk umat.
Umat Sedang Menghadapi Persoalan Nyata,
Ibu-ibu di kampung memikirkan harga kebutuhan pokok, Petani memikirkan pupuk dan harga panen, Nelayan memikirkan biaya melaut, Guru memikirkan masa depan murid, Orang tua memikirkan biaya pendidikan, Anak muda memikirkan pekerjaan, Pedagang kecil memikirkan bagaimana usahanya bertahan.
Mereka adalah umat,
dan banyak di antara mereka adalah warga NU.

Lalu kita perlu bertanya : di mana NU ketika umat menghadapi persoalan itu ?.
Jangan sampai warga NU hanya menjadi penting ketika Muktamar tiba, Ketika suara diperlukan, warga dicari. Setelah keputusan dibuat, warga kembali menjadi penonton.
NU harus lebih dari sekadar struktur organisasi, NU harus menjadi kekuatan sosial yang menghidupi kehidupan umat.
Ukuran kebesaran NU bukan hanya banyaknya struktur, pejabat, acara atau dukungan politik.
Ukuran paling sederhana adalah :
seberapa besar umat merasakan manfaat keberadaan NU.
Kalau anak muda NU menganggur, apakah NU hadir ?
Kalau petani kesulitan pasar, apakah NU punya solusi ?
Kalau warga kesulitan pendidikan, apakah NU punya jalan keluar ?
Kalau masyarakat kecil menghadapi persoalan sosial dan hukum, apakah NU menjadi tempat mereka mendapatkan pertolongan ?
Di situlah ruh perjuangan para muassis diuji.
Jangan Gunakan Nama Muassis untuk Kekuasaan,
Jangan sampai nama muassis dan dzuriyah digunakan sebagai stempel politik organisasi.
Seolah-olah siapa yang dekat dengan dzuriyah otomatis paling NU, Seolah-olah siapa yang memperoleh restu tokoh tertentu otomatis paling sah, Seolah-olah sejarah keluarga menjadi surat kepemilikan organisasi.
Padahal cara paling tinggi menghormati muassis bukan terus-menerus mengatasnamakan mereka, melainkan menjalankan nilai yang mereka perjuangkan.
Kalau mereka mengajarkan tawadhu, jangan membangun kesombongan kekuasaan,
Kalau mereka mengajarkan ilmu, jangan menggantinya dengan transaksi kepentingan,
Kalau mereka mengajarkan persaudaraan, jangan menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan bermusuhan,
Dan kalau mereka mendirikan NU untuk umat, jangan jauhkan NU dari umat.

Muktamar Harus Kembali kepada Umat.

Muktamar adalah forum tertinggi organisasi, tetapi jangan sampai semakin tinggi forum, semakin jauh pandangan NU dari kehidupan rakyat.

Pertanyaan utama Muktamar seharusnya bukan hanya :

Siapa calon Rais Aam? Siapa calon Ketua Umum? Siapa mendukung siapa?

Tetapi:

Apa yang sedang dirasakan umat ?, Apa yang dibutuhkan umat ?, Apa yang dapat dilakukan NU ?
Umat tidak bangun pagi lalu bertanya siapa yang akan menjadi Rais Aam.
Umat bangun pagi memikirkan sekolah anak, pekerjaan, harga kebutuhan pokok dan masa depan keluarganya.
Di situlah NU seharusnya hadir.

NU Terlalu Besar untuk Dimiliki Segelintir Orang
NU telah melewati perjalanan lebih dari satu abad, Ia terlalu besar untuk dipersempit menjadi milik satu keluarga, terlalu luas untuk dikuasai satu kelompok, dan terlalu mulia untuk dijadikan kendaraan ambisi politik.
NU adalah rumah besar umat,
di dalamnya ada Kiai, Santri, Guru, Petani, Nelayan, Pedagang, Buruh, Intelektual, Perempuan, Anak Muda dan Rakyat Kecil.
Semua memiliki NU !.
Dan karena semua merasa memiliki, semua pula wajib menjaga.

Memiliki NU berarti merawat NU,
Merawat berarti tidak merusaknya demi kepentingan sesaat, Menghormati dzuriyah tanpa menjadikan NU milik keluarga. Menempatkan ulama sebagai penjaga ruh dan arah perjuangan. Mengembalikan politik organisasi kepada akhlak.

Pada akhirnya, para muassis tidak meninggalkan NU agar generasi setelahnya sibuk berebut siapa yang paling berhak memilikinya.
Mereka meninggalkan amanah agar NU tetap hidup, relevan dan bermanfaat.
Maka pertanyaan terbesar dalam Muktamar bukanlah :
“Siapa yang akan mendapatkan NU ?”
Tetapi:
“Siapa yang sanggup menjaga NU ?”
Bukan:
“Siapa yang paling berkuasa ?”
Tetapi:
“Siapa yang paling siap mengabdi ?”
Sebab NU tidak diwariskan untuk dikuasai.
NU diwariskan untuk dirawat.
NU bukan milik siapa-siapa, tetapi menjadi milik bersama seluruh umat yang merasa terpanggil untuk menjaganya.
Menjaga ruh para muassis, Menghormati dzuriyah, Menempatkan ulama sebagai navigator dan Merawat persaudaraan.

Dan yang paling penting:
menghidupkan NU agar nafasnya benar-benar menjadi nafas kehidupan umat dan bangsa.
Sebab NU akan tetap besar bukan karena siapa yang menguasainya, melainkan karena seberapa banyak kehidupan umat yang mampu dihidupkannya.

Surabaya’ 17 Agustus 2026.

*) Penulis adalah Ketua PW IPNU Jatim 1988 – 1992.
Pembina Pimpinan Pusat (PP) IPNU.
PJ. Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur.

Iklan.

You Might Also Like

Dari Kaset, Abah Hasyim Muzadi, hingga Pesantren Digipreneur

Dari Kampus, Pesantren, hingga Kamera yang Merekam Zaman

Proses Katarsis; NU sedang Memuntahkan ke Publik, Menjelang Muktamar ke-35 NU

Merajut Kembali Jejaring di Tubuh Nahdlatul Ulama

Menguatkan AHWA: Mengubah Kontestasi Menjadi Musyawarah, Mengubah Faksionalisme Menjadi Ukhuwah

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Harjabo ke-207, Bupati Hamid Tekankan Pentingnya Merawat Warisan Sejarah

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Harjabo ke-207, Bupati Hamid Tekankan Pentingnya Merawat Warisan Sejarah
Sospol
Di Makassar, Gus Kikin Serukan Pentingnya Qanun Asasi untuk NU
Nahdliyyin
80 Remaja Madjid se-Jatim Ikuti Pelatihan Bisnis Syariah DMI-Demasindo
Milenial
MUNAS III BPN APTAKSINDO & PERJASI 2026 TUNTAS: USUNG TEMA “BERSATU BERKARYA MEMBANGUN NEGERI”, TETAPKAN KETUM BARU & DESAK LPJK KEMBALIKAN FUNGSI PEMBINAAN ASOSIASI
Sospol

You Might also Like

KolomOpini

Relevansi Qanun Asasi di Era Kini dan Masa Depan

09/08/2026
Kolom

MENGGAGAS MEMILIH KETUA UMUM PBNU SECARA BERJENJANG

07/08/2026
Kolom

MODEL PEMILIHAN BERJENJANG KETUA UMUM PBNU BERBASIS INTEGRITAS JAM’IYYAH, SYURA, DAN AHLIYAH

06/08/2026
Kolom

Membangun Ekonomi Mandiri untuk Organisasi dan Warga NU

05/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?