Oleh: Ahmad Fahrur Rozi *)
Kita selalu mendengar kabar burung dalam setiap pemilihan.
Mulai dari pilkades, pileg, hingga pilpres. Isunya hampir selalu sama: money politics, serangan fajar, jual-beli dukungan, dan berbagai istilah lainnya.
Isunya begitu keras.
Begitu ramai diperbincangkan.
Bahkan terkadang seolah-olah sudah menjadi kebenaran.
Namun anehnya, kita tidak pernah mendengar berita bahwa sebuah pilkades atau pilpres dibatalkan karena terbukti money politics. Tidak pula terdengar seorang calon legislatif tidak dilantik karena terbukti membagikan uang untuk membeli suara politik.
Karena itu, saya menyebut isu money politics yang hanya beredar sebagai kabar burung sebagai “setipis tisu”—mudah dibicarakan, tetapi belum tentu kuat ketika dibuktikan.
Begitu pula dalam setiap Muktamar NU.
Sejak Muktamar Makassar, saya datang dan mengikuti langsung dinamika Muktamar. Saya mendengar berbagai isu tentang operasi tim sukses untuk memenangkan seseorang. Ada cerita tentang pembagian uang yang ditukar dengan dukungan.
Bahkan pernah saya melihat sendiri di sebuah rumah di Makassar; orang-orang yang melakukan kampanye, saya mendengar apa yang mereka sampaikan, dan mengetahui apa yang mereka bagikan untuk mengembangkan satu nama menjadi Rais Aam.
Tetapi apa yang kemudian terjadi?
Muktamar tetap berjalan.
Ada yang menang.
Ada yang kalah.
Ada yang terpilih.
Ada yang harus menerima hasilnya.
Dan isu-isu yang sebelumnya begitu ramai, perlahan menghilang bersama berakhirnya Muktamar.
Dari Muktamar ke Muktamar, pola semacam ini terus berulang.
Karena itu, kiranya sudah cukup kita meributkan isu yang tidak pernah selesai.
Kalau memang ada bukti pelanggaran, silakan bawa bukti tersebut kepada forum dan mekanisme yang tersedia. Jangan hanya membangun opini, menyebarkan kecurigaan, lalu membuat suasana semakin gaduh.
Muktamar NU bukan sekadar arena perebutan jabatan.
Muktamar adalah forum para muktamirin untuk menentukan arah organisasi dan memilih pemimpin terbaik bagi NU.
Maka saatnya kita kembali kepada hati nurani.
Pilihlah yang menurut kita paling baik.
Pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan NU.
Pilih berdasarkan integritas, kapasitas, keteladanan, dan komitmennya.
Tidak perlu sungkan.
Tidak perlu basa-basi.
Tidak perlu takut pada tekanan siapa pun.
Jangan memilih karena uang.
Jangan memilih karena tekanan.
Jangan memilih karena ketakutan.
Pilihlah karena keyakinan bahwa pilihan itu adalah yang terbaik untuk NU.
Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang paling ramai didukung, tetapi siapa yang paling layak diberi amanah.
Dan untuk itu, kita tidak membutuhkan kegaduhan.
Kita membutuhkan kejernihan hati dan keberanian mengikuti hati nurani.



