By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Prof Nurliah: AI percepat layanan dan kurangi ruang korupsi tapi butuh literasi digital
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Milenial > Prof Nurliah: AI percepat layanan dan kurangi ruang korupsi tapi butuh literasi digital
Milenial

Prof Nurliah: AI percepat layanan dan kurangi ruang korupsi tapi butuh literasi digital

18/11/2025
SHARE

Jakarta, radar96.com – Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof Dr Nurliah Nurdin MA menilai digitalisasi dan penggunaan AI dalam pemerintahan bukan hanya modernisasi, tetapi kebutuhan untuk menyelamatkan uang negara, mempercepat layanan publik, dan mengurangi ruang korupsi (pemerintahan yang bersih), namun AI membutuhkan literasi digital yang saat ini masih rendah.

“Saat ini, AI bukan lagi pilihan, melainkan menjadi infrastruktur baru dalam tata kelola pemerintahan. Dunia bergerak cepat, sementara Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama literasi digital. Kalau literasi digital kurang baik, maka AI menjadi kurang bermanfaat,” katanya saat membuka Bedah Buku ‘E-Government di Era AI’ secara daring, Senin (17/11/2025) malam.

Bedah Buku “E-Government di Era Artificial Intelligence” karya Dr Yusuf Amrozi ST M.MT di Politeknik STIA LAN Jakarta itu dihadiri oleh civitas akademika yang terdiri dari unsur manajemen, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dengan dua pembahas yaitu Agus Eko Nugroho SE M.Appl.Econ PhD, dan Dr Alih Aji Nugroho MPA.

Dalam paparannya, Prof Nurliah merujuk data global yang menunjukkan Indonesia berada di peringkat 77 dari 193 negara dalam “EGDI 2024” PBB (very high e-government), sedang “Digital Government Maturity Index” memosisikan Indonesia pada level Intermediate, tertinggal jauh dari negara seperti Singapura dan Estonia.

“Tiga kekuatan utama AI dalam meningkatkan kinerja birokrasi adalah mempercepat layanan publik (efficiency). AI dapat memangkas waktu layanan dari hitungan hari menjadi menit, seperti pada pengelolaan data kependudukan, notifikasi otomatis, dan pembacaan dokumen perizinan,” katanya.

Kedua, mengurangi ruang korupsi (transparency and traceability). AI menciptakan jejak digital melalui sistem pengawasan otomatis dan analitik anti-fraud pada dana desa, pengadaan barang/jasa, serta mengurangi tatap muka yang rawan pungutan liar.

“KPK mencatat kerugian negara akibat korupsi mencapai Rp42 triliun per tahun (rata-rata kasus 2019-2024), namun Bank Dunia memperkirakan economic loss korupsi mencapai 2-3 persen PDB atau setara Rp350-Rp500 triliun per tahun di era AI. Jadi, digitalisasi dan penggunaan AI dalam pemerintahan menyelamatkan uang negara,” katanya.

Ketiga, kekuatan AI dalam E-Government adalah mendukung pengambilan keputusan berbasis data (data-driven policy). AI memungkinkan prediksi kebutuhan anggaran, pemetaan potensi kemiskinan, penghitungan risiko bencana, dan penyusunan kebijakan berbasis data.

“Buku yang ditulis oleh Dr Yusuf Amrozi ini memberikan fondasi penting tentang integrasi AI dalam pelayanan publik, etika, keamanan data, transparansi, dan transformasi aparatur masa depan,” ujar Prof. Nurliah.

Sementara itu, penulis buku Dr. Yusuf Amrozi menjelaskan isu e-government yang selalu aktual di tengah tuntutan layanan publik yang mudah, cepat, dan murah di era AI itu membutuhkan guideline bagi peserta didik, khususnya pada mata kuliah E-Government.

“Urgensi e-government itu karena kebutuhan peningkatan layanan publik, efisiensi tata kelola birokrasi, serta perkembangan teknologi yang memungkinkan adopsi AI dalam berbagai konteks (G2C, G2B, G2G, G2E). Tiga dimensi e-government adalah Service Dimension (kualitas layanan publik), Administrative Dimension (efektivitas dan efisiensi), dan Democratic Dimension (partisipasi, peran dan wewenang, serta transparansi),” katanya.

Selain itu, katanya, kerangka Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kualitas layanan, infrastruktur, SDM, keamanan siber, regulasi, partisipasi publik, manajemen data, hingga perencanaan strategis sistem informasi lintas pusat-daerah,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Pembahas Agus Eko Nugroho PhD menyoroti sejumlah masalah mendasar seperti Literasi digital yang masih berada pada kategori “sedang”, Integrasi digital antarwilayah dan antarinstansi yang belum optimal, serta Infrastruktur digital yang belum merata (hanya 78 persen populasi terhubung internet). (*/fpnu)

Iklan.

You Might Also Like

Halalbihalal, Majelis Alumni IPNU-IPPNU Titipkan GenZI jadi fokus binaan IPNU-IPPNU

Dua Mahasiswi FKIP Unusa Juara Nasional Jujitsu, Cerminan Karakter Pendidik Masa Depan

Gus Iqdam dan Wagub Jatim Luncurkan ”Talenta Digital Santri” Al Yasmin dengan 21 konfigurasi drone

99 GenZi Siap Sambut “Tamu” Qiyamullail di Masjid Al-Akbar Surabaya

Ngaji “Spirit of Ramadhan” di Masjid Al-Akbar, Hanan Attaki: Tiga Cara “Caper Allah”

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article PBNU dan BAZNAS RI Luncurkan “Beasiswa NU Scholarship 2025”
Next Article 26 Tahun ISNU: Dari “Dapur Intelektual” NU hingga Garda Depan “Indonesia Emas”

Advertisement



Berita Terbaru

KPK rekomendasikan 7 solusi cegah 8 potensi korupsi program MBG
Sospol
Tiga Hari, Menu SPPG Kedungwaru Dipilih BGN sebagai Contoh Nasional
Sospol
Petani Tembakau Madura Keluarkan Tritura
Ekraf
KHM Chizni Umar Burhan “Penjaga Rumah Arsip NU” Wafat
Nahdliyyin

You Might also Like

Milenial

Dokter Pia Targetkan Pengabdian di Tanah Kelahiran Mobagu, Sulut

12/02/2026
Milenial

Nabila, Dokter Alumni Unusa Siap Mengabdi untuk Masyarakat Papua

12/02/2026
Milenial

Jalur Al-Qur’an Antarkan Alumni Unesa Ainur Roziqin Tampil Qori’ di hadapan Presiden Prabowo dalam 1 Abad NU

12/02/2026
Milenial

Hanan Attaki: Ramadhan Bulan Rehat Mental dan Bulan Caper Terbaik pada Allah

05/02/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?