By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Sudah Hilangkah Ketauladanan di Tubuh NU?
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Sudah Hilangkah Ketauladanan di Tubuh NU?
Kolom

Sudah Hilangkah Ketauladanan di Tubuh NU?

24/06/2026 Kolom
SHARE

Refleksi atas Dinamika Munas dan Konbes di Ponpes Al Falah Ploso Kediri

Oleh: Sudarsono Rahman*

Ada kegelisahan yang pelan-pelan menjelma menjadi pertanyaan besar di kalangan warga Nahdliyin: apakah ketauladanan masih menjadi napas utama dalam dinamika organisasi kita hari ini?

Dinamika yang terjadi dalam Sidang Pleno Munas dan Konbes NU di Ponpes Al Falah Ploso Kediri—sebagaimana berkembang dalam berbagai percakapan publik—menunjukkan bahwa ruang musyawarah yang sejatinya teduh, bisa saja berubah menjadi ruang yang tegang, bahkan memunculkan perdebatan yang menguji kesabaran dan adab para peserta.

Kita tentu memahami bahwa perbedaan pendapat adalah bagian dari tradisi organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. NU sejak awal tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan pada kebijaksanaan dalam menyikapi keragaman pandangan. Namun yang selalu menjadi penyangga utama adalah adab, bukan sekadar argumen; marwah kiai, bukan sekadar kemenangan suara.

Di titik inilah pertanyaan itu menjadi relevan: ketika ruang musyawarah dipenuhi ketegangan, apakah kita masih mampu menjaga spirit tawadhu’ di hadapan para kiai sepuh dan menjaga kehormatan Rois Aam sebagai simbol tertinggi moral organisasi?

Isu-isu yang berkembang—termasuk perdebatan mengenai penetapan lokasi Muktamar, bahkan dinamika yang melibatkan keputusan sidang—seharusnya tidak dibaca semata sebagai konflik teknis. Ia harus dibaca sebagai cermin: sejauh mana kultur keteladanan masih menjadi ruh dari setiap keputusan organisasi.

NU bukan sekadar struktur. Ia adalah peradaban akhlak. Ketika keputusan dipersoalkan, yang paling penting bukan hanya siapa yang benar, tetapi apakah prosesnya masih menjaga kehormatan, keteduhan, dan rasa hormat antar sesama jamaah.

Kita patut bertanya dengan jujur, tanpa prasangka: apakah energi kita hari ini masih cukup untuk menjaga warisan para muassis—yang selalu mendahulukan hikmah di atas kepentingan, dan mendahulukan persaudaraan di atas perbedaan?

Jika ada kegaduhan, maka yang perlu segera dipulihkan bukan hanya keputusan, tetapi juga suasana batin organisasi. Sebab NU tidak hanya hidup di ruang sidang, tetapi juga hidup di hati jutaan umat yang menaruh harapan pada keteladanan para pemimpinnya.

Kita semua tentu berharap, setiap forum tertinggi NU tetap menjadi ruang yang memancarkan kesejukan, bukan sekadar arena perdebatan. Dan setiap perbedaan, sekeras apa pun, tetap berada dalam bingkai akhlaqul karimah yang menjadi identitas utama jam’iyah ini.

Akhirnya, pertanyaan “sudah hilangkah ketauladanan di tubuh NU?” bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan.

Bahwa organisasi sebesar NU tidak boleh kehilangan kompas moralnya, meski zaman terus berubah dan dinamika internal semakin kompleks.

Lalu mampukah NU menjadi suluh peradaban ? bila keteladanan sudah semakin diabaikan ?

Semoga setiap dinamika yang terjadi justru menjadi jalan untuk kembali meneguhkan: bahwa di atas semua perbedaan, adab tetap raja; dan di atas semua keputusan, keteladanan tetap panglima.

*Penulis adalah Wakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur, Mantan Ketua PW IPNU Jawa Timur 1988–1992

Iklan.

You Might Also Like

BERKAH MUKTAMAR DAN MARWAH PESANTREN

WARGA NU DAN KUASA ALGORITMA

MUKTAMAR BERKAH TANPA RISYWAH HASANAH

Dibalik angka 6 + 10 = 17 di Ranah Geopolitik

Tahun Baru Islam 2026, ada “FishTech” di Masjid Al-Akbar, Apa Itu?!

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article BERKAH MUKTAMAR DAN MARWAH PESANTREN

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

BERKAH MUKTAMAR DAN MARWAH PESANTREN
Kolom
Presiden Minta Dukungan NU Atasi Kebocoran 346 Miliar Dolar AS ke Luar Negeri
Nahdliyyin
WARGA NU DAN KUASA ALGORITMA
Kolom
Api Hanguskan Gudang Alas Tembakau di Pancoran Bondowoso
Sospol

You Might also Like

Kolom

Membangun Citra Pesantren: Sinergi Kinerja Alumni, Kharisma Kiai dan Tatakelola Manajemen Modern

21/05/2026
Kolom

Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi

20/05/2026
Kolom

Dewan Kesenian Bagian Spesifik dari Kebudayaan 

14/05/2026
KolomUncategorized

Konversi Energi Kedua Republik Indonesia: Amanat Penderitaan Rakyat Madura

13/05/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?