Jakarta (Radar96.com/NUO) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan KH Ahmad Fahrurrozi (Gus Fahrur) diundang menjadi narasumber di podcast atau siniar Youtube Deddy Corbuzier. Keduanya membincang soal fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Deddy Corbuzier membuka obrolan dengan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul akibat tayangan yang menampilkan pasangan gay di youtube-nya. Sejurus kemudian, ia bertanya kepada Gus Fahrur tentang cara menanggapi fenomena LGBT. Sebab para pelaku LGBT itu juga manusia biasa, bahkan ada yang sampai ketakutan lantaran Deddy Corbuzier mengunggah tayangan pasangan gay beberapa waktu lalu, meski kini sudah dihapus.
Kiai muda yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menjawab, para pelaku LGBT itu adalah manusia. Sesama manusia wajib menjaga relasi yang baik. Ia menegaskan, boleh tidak setuju dengan praktik LGBT tetapi tidak boleh melakukan kekerasan atau bahkan kebencian.
“Bagaimana pun mereka sebagai manusia, saudara kita, semuanya harus kita jaga hubungan baik. Jadi kalaupun kita tidak setuju, kita tidak boleh melakukan kekerasan atau kebencian. Dakwah itu harus dilakukan dengan baik. Al-Qur’an itu menyuruh ud’u ilaa sabili rabbika bil hikmah (artinya) ajak orang dengan baik,” ungkap Gus Fahrur dalam siniar Deddy Corbuzier yang tayang pada Sabtu (14/5/2022) siang.
“Kalau kita mengatakan LGBT itu tidak sesuai dengan norma agama, jangan dimaki-maki, diajak bicara. Semua orang bisa punya masa lalu yang jelek (dan) bisa menjadi lebih baik lagi,” imbuh Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang, Malang, Jawa Timur itu.
Gus Fahrur kembali menegaskan bahwa para pelaku LGBT di Indonesia seharusnya diajak dan dirangkul menuju jalan yang benar. Sebab, katanya, dakwah itu mengajak bukan mengejek dan merangkul bukan memukul. Menurut dia, Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, termasuk dalam menciptakan manusia.
“Pada prinsipnya, manusia itu diciptakan berpasangan. Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasangan. Laki-perempuan, siang-malam, gelap-terang, sedih-bahagia. Secara umum demikian dan itu kadratnya seperti itu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Allah telah menciptakan Nabi Adam dan istrinya, Hawa. Dari situlah kemudian muncul pernikahan-pernikahan sehingga melahirkan keturunan-keturunan dan membangun generasi. “Makanya laki-laki harusnya tertarik dengan perempuan supaya kemudian terjadi pernikahan dan reproduksi (agar) dunia ini berjalan,” katanya.
Terkhusus pasangan gay, Gus Fahrur menjelaskan bahwa melakukan hubungan sodomi itu sangat berbahaya dan bisa menimbulkan penyakit. Sebab, lubang belakang atau dubur bukan tempat yang diperkenankan dalam melakukan hubungan seks karena itu menjijikkan.
“Menjijikan, makanya itu dilarang. Itu kan sesuatu yang dilarang. Bahkan pada istri pun tidak boleh, tidak boleh pada siapa pun. Islam melarang hubungan belakang itu walaupun dengan istrinya, itu bukan jalannya, itu jalan buat kotoran. Jadi Anda salah kalau masuk dari situ,” ungkapnya.
Muslimat, Rekayasa Sosial LGBT
Sementara itu, Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (Hidmat) Muslimat Nahdlatul Ulama terus melakukan berbagai upaya strategis dalam menangkal problem lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Upaya tersebut Hidmat Muslimat lakukan dengan basis para daiyah dan pimpinan majelis taklim.
Ketua Hidmat Muslimat NU Nyai Hj Mahfudhoh Aly Ubaid menuturkan, LGBT yang berkembang di tengah masyarakat bukan problem biasa karena memerlukan penanganan serius dari beberapa sudut pandang, baik dari kesehatan, psikologi, dan hukum.
“Hidmat yang merupakan tempat berhimpun para daiyah dan majelis taklim menghadapi tantangan serius terkait LGBT ini. Kami berkewajiban melakukan advokasi dan edukasi agar generasi bangsa tidak rusak oleh perilaku menyimpang LGBT,” tutur Nyai Mahfudhoh, Selasa (17/7) dalam kegiatan FGD Hidmat Muslimat NU di Jakarta.
Dalam kegiatan bertema Rekayasa Sosial dalam Menghadapi Problem LGBT Berbasis Majelis Taklim ini, Nyai Mauhfudhoh berharap hasil dari kajian masalah aktual dalam FGD ini dibukukan untuk disebarluaskan kepada para daiyah dan pimpinan majelis taklim.
Sementara itu, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag Muharom Marzuki yang digandeng Hidmat Muslimat NU menegaskan, LGBT merupakan penyimpangan seksual yang tidak pernah ada dalam ajaran agama Islam.
Muharom juga menyatakan, negara telah tegas menolak praktik dan keberadaan LGBT di Indonesia. “Kaum LGBT ini melakukan maksiat menjadi gaya hidup, mereka merasa bangga dengan kondisinya itu,” jelas Muharom.
Muharom berharap, peran strategis Hidmat Muslimat NU menjadi harapan untuk menangkal dan menanggulangi problem LGBT ini. “Hal ini berangkat dari karena pemerintah berharap warganya sehat moral dan spiritual supaya bangsa Indonesia maju,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Periodik PP Muslimat NU Nyai Hj Mursyidah Thahir menyatakan, peran ibu-ibu Muslimat seperti yang termaktub dalam salah satu bait Mars Muslimat NU, “Marilah Hai Kaum Ibu, Bimbinglah Putra-putrimu”, menunjukkan bahwa peran ibu dan keluarga sangat penting dalam menangkal problem LGBT.
“Kaum ibu berperan penting dalam membimbing anak-anaknya dalam menangkal problem serius LGBT,” ucap Mursyidah. Dosen IIQ Jakarta ini juga mengungkapkan, peran dan pengaruh global LGBT juga cukup besar karena saat ini ada 24 negara yang mengesahkan perkawinan sejenis.
Sebab itu, ia mendorong penguatan eksistensi Muslimat NU untuk menanggulangi perilaku menyimpang LGBT demi generasi bangsa. Sesi pembukaan kegiatan ini ditutup dengan doa yang dilakukan Ketua II PP Muslimat NU Nyai Hj Nurhayati Said Aqil Siroj. Kegiatan ini juga dihadiri Sekretaris Umum PP Muslimat NU Hj Ulfah Masfufah, Ketua I PP Muslimat NU Hj Sri Mulyati sejumlah Dewan Pakar Muslimat NU, beberapa pengurus Muslimat NU se-Jabodetabek, para daiyah, dan pimpinan majelis taklim.
Kegiatan pembukaan dilanjutkan diskusi panel dengan menghadirkan tiga narasumber, Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, pakar kesehatan Prianto Jatmiko, dan Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Abdul Mujib. (*/NUO)
Sumber:
*) https://www.nu.or.id/nasional/bersama-deddy-corbuzier-ketua-pbnu-bahas-masalah-lgbt-ZNcp9
*) https://www.nu.or.id/nasional/hidmat-muslimat-nu-bahas-rekayasa-sosial-tanggulangi-problem-lgbt-2XFuu

