By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: KH Agus Sunyoto dan Kegelisahannya soal Manipulasi Sejarah Wali Songo
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > KH Agus Sunyoto dan Kegelisahannya soal Manipulasi Sejarah Wali Songo
Kolom

KH Agus Sunyoto dan Kegelisahannya soal Manipulasi Sejarah Wali Songo

29/04/2021
Ilustrasi - Pondok Pesantren Karangsawo, Paciran, Lamongan yang berarsitektur Jawa. (*/MA)
SHARE

Oleh Fathoni Ahmad *)

Bagi sebagian orang, materi sejarah dirasakan sebagai sesuatu yang membosankan. Apalagi jika tidak pernah dilakukan penelitian-penelitian baru serta penemuan-penemuan baru. Sejarah akhirnya hanya soal romantisme tak berdampak. Namun, asumsi-asumsi tersebut muncul karena guru di sekolah atau dosen di perguruan tinggi kurang memberikan pendekatan berbeda dalam menginternalisasi nilai-nilai sejarah kepada anak didik.

Persoalan sejarah adalah bagaimana manusia belajar terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu agar kehidupan di masa mendatang menjadi lebih baik. Sejarah juga mengajarkan kepada manusia untuk tidak melupakan subjek maupun objek sejarah yang turut mempengaruhi atau mewarnai kehidupan manusia di masa lalu, entah itu tindakan baik maupun buruk.

Prinsip-prinsip tersebut yang menjadikan sejarah merupakan elemen penting sebuah bangsa atau kelompok, bahkan sebagai bahan kerap digunakan sebagai propaganda. Sebab itu, tidak sedikit sejarah di negeri ini yang dikaburkan. Misalnya peniadaan perjuangan kemerdekaan para ulama pesantren dan santri-santrinya dalam menumpas penjajah di masa Orde Baru pimpinan Soeharto. Pada masa tersebut, kencenderungan penulisan sejarah lebih ke militerisme atau sejarah militer.

Begitu juga kelompok-kelompok minoritas seperti paham-paham Islam transnasional, kelompok puritanisme, dan kelompok-kelompok Islam yang mendeklarasikan dirinya sebagai kelompok modernis. Mereka berusaha menghilangkan jejak sejarah Wali Songo sebagai penyebar utama Islam di Nusantara dengan menggambarkan Wali Songo sebagai tokoh-tokoh fiktif dan mitos. Hal itu terlihat ketika buku Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve yang tidak menyebut satu kalimat pun tentang Wali Songo.

Termasuk khazanah kekayaan budaya Islam di Jawa saat pertengahan abad ke-15 silam. Hal itulah yang menjadi kegelisahan Sejarawan Indonesia, termasuk K. Ng. H Agus Sunyoto sebagai peneliti sejarah-sejarah Islam di Nusantara. Kiai Agus mengingatkan pula pada argumen yang jauh dari nilai ilmiah yang dituturkan oleh penulis Sjamsudduha dalam bukunya Walisanga Tak Pernah Ada? Yang berisi asumsi-asumsi argumentatif bahwa yang disebut Wali Songo sebagai sebuah lembaga dakwah yang beranggotakan sembilan orang tokoh wali penyebar Islam di Jawa itu dianggap tidak ada.

Kiai Agus Sunyoto memandang, dua buku yang berupaya meniadakan peran Wali Songo itu sebagai usaha sistematis dari golongan minoritas untuk mengurangi peran penganut paham Ahlussunah wal Jamaah. Padahal, secara sosiokultural-religi, pengikut Wali Songo bervariasi, mulai dari kaum santri, priyayi, dan abangan.

Kiai Agus juga menjelaskan, ada peran orang Eropa dalam literatur yang hanya memaknai sesuatu sebagai objek tunggal. Otoritas pengetahuan Eropa itu menganggap sejarah dari sekelompok wali Allah tidaklah ada. “Kita tak bisa seterusnya mengikuti pandangan Eropa seluruhnya, karena mereka terbatas memaknai kajian sejarah Nusantara yang beragam,” papar Kiai Agus dalam peluncuran buku Atlas Wali Songo pada Kamis, (5/7/2012) silam di Kantor PBNU Jakarta.

Sadar pentingnya makna keberadaan Wali Songo dalam dakwah Islam, Kiai Agus memulai penelitiannya dengan memadukan aspek sejarah dan arkeologi dari peninggalan jejak di situs-situs yang tersebar di pantai utara. Data material berupa prasasti disambangi dan ditelusuri oleh Kiai Agus. Beliau menemukan bukti otentik ajaran Wali Songo. Ajaran Wali Songo tidak menghilangkan nilai-nilai sosial dan aturan dalam perilaku kehidupan rakyat lokal. Ini terlihat dari pemakaian istilah lokal yang persuasif seperti sembahyang (sembah Hyang), puasa (apuwasa), maupun pesantren.

Upaya-upaya manipulasi sejarah Wali Songo dalam buku Ensiklopedia Islam oleh penerbit Ikhtiar Baru Van Hoeve dan penerbitan buku-buku picisan lain menurut pandangan Kiai Agus merupakan bagian dari strategi golongan minoritas untuk mengaburkan sejarah. Sebab, lewat buku-buku tersebut, tidak saja keberadaan Wali Songo dihapus dari sejarah penyebaran Islam di Nusantara, melainkan juga lewat penghujatan dan penistaan terhadap ajaran yang ditinggalkan Wali Songo akan menimbulkan kebencian dan antipati terhadap Islam warisan Wali Songo yang dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia.

Sebab itulah Kiai Agus Sunyoto menulis buku Atlas Wali Songo. Buku yang memaparkan dengan jelas bahwa Wali Songo sebagai penyebar utama Islam di Nusantara adalah fakta sejarah, bukan fiktif, juga bukan mitos. Dalam buku tersebut, Kiai Agus tidak hanya menggunakan pendekatan kronologis sejarah total, tetapi juga menyajikan bukti-bukti arkeologis, serta jejak-jejak peninggalan para tokoh Wali Songo. Wa ba’du, dalam dunia akademis dikenal adagium, “peneliti itu boleh salah, tetapi tidak boleh bohong”.

Peniadaan peran dakwah Wali Songo maupun peran ulama-ulama pesantren dalam sejarah penyebaran dan peradaban Islam di Nusantara merupakan tindakan bohong sekaligus pembohongan publik. Tindakan manipulasi sejarah tersebut berbahaya bagi generasi mendatang yang terancam tidak akan mengetahui dan memahami sejarah bangsanya sendiri. Padahal, sebuah bangsa tidak akan bisa dibawa ke mana-mana, jika tak tahu asalnya dari mana. (*)

  • Penulis adalah Pengajar Sejarah di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Redaktur NU Online

Sumber:
*) https://www.nu.or.id/post/read/128407/kh-agus-sunyoto-dan-kegelisahannya-soal-manipulasi-sejarah-wali-songo

Iklan.

You Might Also Like

Presiden Prabowo dan Pelajaran Penting dari “Satu Abad NU”

Jalan Kebudayaan: Strategi NU Merawat Jagat di Abad Kedua

Memperingati Satu Abad NU

Tentang Janji yang Retak

Di Lirboyo, Desember Itu

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gubernur Khofifah minta Bupati dan Wakil Bupati Pacitan yang baru fokus Kualitas SDM dan mitigasi Daerah Rawan Bencana
Next Article Wartawan Jatim miliki Press Room “Istagramable”, Gubernur Khofifah ajak wartawan makin profesional

Advertisement



Berita Terbaru

Dua Mahasiswi FKIP Unusa Juara Nasional Jujitsu, Cerminan Karakter Pendidik Masa Depan
Milenial
Wadah Komunikasi dan Koordinasi Dapur MBG Terbentuk di Surabaya
Sospol
Pelantikan Pengurus Cabang JKSN se-Banten Perkuat Organisasi dan Peran Ulama
Sospol
Gus Iqdam dan Wagub Jatim Luncurkan ”Talenta Digital Santri” Al Yasmin dengan 21 konfigurasi drone
Milenial

You Might also Like

Kolom

Di Antara Tinta dan Kata

31/12/2025
Kolom

Perpaduan Antara Seniman visioner dan Tersetruktur

25/12/2025
Kolom

26 Tahun ISNU: Dari “Dapur Intelektual” NU hingga Garda Depan “Indonesia Emas”

19/11/2025
Kolom

Bullying/Perundungan, Gojlokan dan Sendau-gurau Bedanya Sangat Tipis

09/11/2025
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?