PBNU hadiri deklarasi aliansi global untuk perdamaian dan cegah politik identitas

Katib Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, menyampaikan pidato didampingi para pimpinan Komunitas W. Deen Mohammed dan WEA. (*/teronggosong.id)
Katib Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, menyampaikan pidato didampingi para pimpinan Komunitas W. Deen Mohammed dan WEA. (*/teronggosong.id)
Bagikan yuk..!

Washington, DC (Radar96.com) – Sebanyak 25 tokoh-tokoh agama, politik dan intelektual Amerika Serikat berkumpul di Masjid Muhammad di Washington, DC, Selasa (13/7/2021) siang waktu setempat, untuk menyaksikan diumumkannya pembentukan aliansi global.

Pembentukan atau deklarasi Aliansi Global yang dihadiri Katib Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, itu melibatkan tiga pihak yakni Gerakan Global Humanitarian Islam, Komunitas Warith Deen Mohammed dan World Evangelical Alliance (WEA).

Ketiga pihak yang tergabung dalam Aliansi Global itu sepakat untuk membangun ikatan yang kokoh di antara agama-agama dunia dalam upaya bersama mencari jalan keluar dari konflik antar identitas dan memperjuangkan perdamaian.

Diantara mereka adalah Johnnie Moore (juru bicara komunitas Evangelis Amerika dan tokoh Partai Republik), David Saperstein (pemimpin Yahudi Reformis yang juga tokoh Partai Demokrat), Paul Marshall (The Hudson Institute), dan Imam Talib Shareef (pimpinan komunitas W. Deen Mohammed).

Dalam forum yang diprakarsai oleh The Center For Shared Civilizational Values (CFSCV) dan dihadiri beberapa utusan KBRI di Washington, DC, itu, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Sekretaris Jenderal WEA, Dr. Thomas Schirrmacher, menyampaikan pidato kunci.

Saat itu, Gus Yahya menyampaikan salam dari Ketua dan Pendiri CFSCV, KH. Ahmad Mustofa Bisri. Gus Yahya juga menjelaskan bahwa apa yang dia jalankan merupakan pelaksanaan amanat dari mendiang KH. Maimun Zubair bahwa “Indonesia harus memberi teladan kepada Dunia tentang Bhinneka Tunggal Ika”.

“Kita mewarisi sejarah ratusan tahun konflik antar agama. Kini, dalam konteks realitas abad ke-21, Dunia tidak mungkin menyimpan konflik masa lalu karena jelas akan membawa keruntuhan peradaban umat manusia seluruhnya,” katanya.

Gus Yahya juga menyatakan, “Kini saatnya agama-agama dituntut untuk membangun landasan teologi yang kokoh di lingkungan masing-masing, untuk memberikan panduan bagi ummatnya agar mampu hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan”.

Sekretaris Jenderal WEA, Dr. Thomas Schirrmacher, mengungkapkan keyakinannya akan kerja sama dengan Nahdlatul Ulama. “Kami telah melihat bukti-bukti nyata bahwa NU berbeda dari aktor-aktor global lainnya, NU tidak hanya bermulut manis dalam soal perdamaian, tapi sungguh-sungguh bergulat dalam pemikiran dan gerakan nyata,” katanya.

Qanun Asasi versi Inggris

Aliansi tiga pihak tersebut melalui pernyataan bersama yang mereka sebut “The Nation’s Mosque Statement” (Seruan Masjid Muhammad) itu, mereka mengajak semua orang yang berkehendak baik dari semua agama dan kebangsaan untuk bergabung dalam aliansi global yang dibangun di atas landasan nilai-nilai keadaban bersama (shared civilizational values).

Aliansi global itu bertujuan untuk mencegah dijadikannya identitas sebagai senjata politik, membendung penyebaran kebencian komunal, mempromosikan solidaritas dan saling menghormati di antara berbagai kelompok, budaya, dan bangsa yang berbeda, serta memperjuangkan terwujudnya tata dunia yang sungguh-sungguh adil dan harmonis berdasarkan penghormatan terhadap kesetaraan hak dan martabat bagi setiap manusia.

Lebih dari 25 tokoh agama dan politik Amerika yang hadir ikut membubuhkan tanda tangan sebagai tanda dukungan mereka bagi seruan tersebut.

Dalam kesempatan itu pula diluncurkan sebuah buku berjudul “Reimagining Muslim-Chistian Relations in the 21st Century” (Merangkai Kembali Hubungan Muslim-Kristen di Abad ke-21), yang merupakan kompilasi tulisan-tulisan dari para tokoh NU seperti: KH Abdurrahman Wahid dan KH A. Mustofa Bisri; dan para tokoh WEA.

Sebagai tulisan utama adalah versi bahasa Inggris dari “Muqaddimah Qanun Asasi” yang merupakan pidato pembukaan dalam Muktamar NU yang pertama oleh Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

“Dengan buku ini, untuk pertama kalinya Muqaddimah Qanun Asasi diterjemahkan dan diterbitkan dalam Bahasa Inggris,” kata Duta Khusus GP Ansor untuk Amerika, Eropa, dan PBB, C. Holland Taylor.

“Sebenarnya sangat terlambat bahwa Dunia harus menunggu hampir seratus tahun sebelum memperoleh akses kepada pemikiran Pendiri NU yang isinya sangat dibutuhkan bagi pencerahan umat manusia, karena menjelaskan kenapa suatu masyarakat dan peradaban bisa runtuh dan bagaimana membangkitkan dan membangun peradaban mulia yang kokoh. Apabila dunia mau memperhatikan dan mengikuti panduannya, pemikiran Hadratus Syaikh ini akan menjadi pertolongan besar di tengah kemelut yang melanda saat ini,” tegas Holland.

Sementara itu, sejumlah tokoh lintas agama di Surabaya mendirikan Forum Rumah Bersama pada 10 Mei 2021. Ada 30-an elemen masyarakat yang bergabung dalam forum itu, seperti Gus Durian, Jogoboyo, Fatayat NU dan elemen lainnya.

Bertepatan dengan tiga tahun terjadinya tragedi bom di tiga gereja di Surabaya, mereka mengunjungi tiga gereja di Surabaya, di antaranya GKI Diponegoro. Forum itu menyerukan menolak kekerasan dalam segala bentuknya dan mendukung persaudaraan dalam keberagaman. (*)

Sumber: https://teronggosong.id/kabar/2021/07/25-tokoh-agama-dan-politik-amerika-dukung-seruan-masjid-muhammad/

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *