By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Perjalanan 100 Tahun
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Perjalanan 100 Tahun
Kolom

Perjalanan 100 Tahun

07/02/2023 Kolom
Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, dan kini Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama  (*/dokpri)
SHARE

Oleh Mas Inung Aja *)

Sejuta orang bergerak. Berarakan seperti awan. Berkilo-kilo mereka berjalan. Berdesakan mencari celah-celah jalan. Menghindari apa saja untuk menuju satu titik tujuan.

Ada yang telah memutuskan untuk berhenti dan menggelar tikar. Di jalan-jalan dan trotoar. Mereka tahu tak ada tempat, bahkan untuk satu badan. Berjuta manusia telah menyesaki setiap sudut jalan menuju panggung maqam kehormatan.

Ada yang beringsut mengarus. Mereka juga sadar tak ada ruang, bahkan untuk melongok pucuk stadion yang berdandan megah. Tapi ini bukan tentang gelaran karpet merah. Ini tentang seberapa kuat kita melangkahkan kaki sedekat tujuan yang memang sewajibnya kita lakukan.

Perjalanan ini telah kita mulai seabad lalu. Jika kini kita berada di sini, jangan pernah berhenti. Ini adalah perjalanan abadi. Bukan untuk memuasi nafsu maqam kehormatan yang kita impikan, tapi sejauh mana kita mendekatkan diri ke tujuan.

Resepsi ini seperti kehidupan kita. Kelahiran adalah start memulai sejarah. Melangkah ke depan menuju Sang Pencipta. Di sepanjang jalan, kita beramal membangun peradaban. Terus bergerak ke ujung terjauh, dan biarkan Tuhan yang menentukan di mana selayaknya kita berada.

Para sufi bijak berkata: “al-thuruq ila Allah bi adadi nujum al-sama’ aw bi adadi anfas al-basyar” (Jalan menuju Allah setak-terhitung bintang-bintang di langit atau setak-berhingga nafas manusia).

Seperti jutaan manusia, mereka mengawali miqat dan memilih jalur jalannya sendiri-sendiri. Mereka bergerak berarak ke titik resepsi. Seakan menuju Sang Pencipta melalui jalan yang telah dipetakan para kiai.

Perjalanan seratus tahun terlalu panjang hanya untuk berhenti-mati. Kita harus terus berjalan, karena ini kewajiban kehidupan. Bukan untuk memaksa harus mendapatkan kalungan bunga dan kursi kehormatan. Allah hanya meminta kita berjalan. Biarlah Dia sendiri yang menentukan.

Resepsi Satu Abad NU di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jatim (7/2/2023) bukan hanya sebuah selebrasi. Ini adalah momentum bagi kita untuk menjadi saksi.

Sekeras dan setulus apa kita membangun peradaban. Bukan agar kita disanjungi bak pahlawan, tapi agar kita mendapatkan tempat sedekat mungkin pada Tuhan, titik akhir segala tujuan.[inu/pna]
*] Penulis adalah Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UINSA Surabaya, dan kini Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

Iklan.

You Might Also Like

Memperbaiki atau Merusak NU?

Kesaksian: PENGAJIAN RUTIN PWNU JATIM ZAMAN DULU DAN SEKARANG

Kader Intelektual Muslim ala Khofifah Indar Parawansa Panen Prestasi di Kampus Al Azhar Kairo Mesir

Fenomena Lilur dan Ujian Etika Komunikasi Nahdliyyin

Saat Jamaah Sendiri Ikut Menyalahkan NU

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Satu Abad NU, zona Bazar UMKM “Nahdlatut Tujjar Fiest” di Lapangan Volly jadi Magnet Kunjungan
Next Article Safari Politik Makin Gencar, Golkar jadi Primadona

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Bekerjasama Dengan Yayasan SASNU: “Islam Nusantara Pilar Peradapan Indonesia”
Sospol
Di UIN Khas Jember, Ketua LTN Bondowoso Tekankan Pentingnya Publikasi Ilmiah Berdampak
Sospol
KH Zakariya Al Ansori Siap Pimpin PCNU Situbondo sebagai Amanah Pengabdian
Nahdliyyin
Toko Sembako di Bondowoso Layani Transaksi Keuangan bagi Warga Tapen
Uncategorized

You Might also Like

Kolom

NUku, NUmu, dan NUnya Hadratussyaikh

17/09/2026
Kolom

Menanamkan Integritas di Koridor Sekolah

17/09/2026
Kolom

MENGENANG H. ABDUL MUID (ABA MUID)

16/09/2026
Kolom

Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya

13/09/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?