Surabaya, radar96.com – Peluang lolos KHM Yusuf Hasyim untuk diusulkan sebagai pahlawan nasional semakin besar. Hal itu dapat dilihat dari acara seminar nasional yang digelar di ruang Marwah Masjid Al-Akbar Surabaya pada Ahad (16/3) sore tadi. Tak hanya dihadiri para tokoh masyarakat, acara itu juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, utusan khusus Menteri Sosial H Malik Haramain, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Pergunu Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz, Ketua Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Prof Usep Abdul Matin, serta beberapa tokoh nasional lainnya.
KHM Yusuf Hasyim adalah putra bungsu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang pernah terlibat aktif dalam dunia kemiliteran di masa perang kemerdekaan dan pensiun dengan pangkat letnan satu (Lettu). Selanjutnya ia pernah aktif di dunia politik dengan menjadi anggota DPR GR dan DPR RI beberapa periode. Selain itu juga aktif di organisasi kemasyarakatan dengan menjadi Komandan Banser Nasional di masa Gestapu 1965, lalu menjadi Sekjen Partai NU, mengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, dan sebagainya.
KH Irfan Yusuf, salah seorang putra KHM Yusuf Hasyim dalam sambutan menyatakan, selain terlibat aktif dalam dunia kemiliteran semasa perang kemerdekaan, KHM Yusuf Hasyim juga banyak berperan aktif dalam bidang lain. Di antaranya mempelopori penyesuaian undang-undang perkawinan nomor 1 tahun 1974 menjadi sesuai dengan syariat Islam. Proses perubahan itu tidak mudah dan memakan waktu yang panjang dan melelahkan. Dibutuhkan keberanian dan keuletan tersendiri pada masa itu.
Di dunia pendidikan dengan mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) di Tebuireng tahun 1967 serta mendirikan SMP dan SMA Wahid Hasyim di dalam pesantren tahun 1967, di saat pesantren-pesantren lain belum melakukan. Lebih dari itu, beliau juga memelopori masuknya BRI ke dalam pesantren untuk mempermudah proses pembayaran, “Di saat pesantren-pesantren lain masih berdebat tentang hukum halal dan haram bank, beliau dengan penuh keberanian sudah mengambil keputusan lebih dulu,” jelas Gus Irfan.
Gus Irfan yang juga Kepala Badan Penyelenggara Haji Republik Indonesia itu mengaku heran dengan minimnya jumlah pahlawan nasional dari NU saat ini yang hanya 13 orang. Baginya, jumlah kiai yang berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa ini sangat banyak. Perjuangan mereka luar biasa dalam berbagai bidang. Tapi kenapa jumlah pahlawan nasional dari NU hanya 13 orang? “Sangat tidak masuk akal,” tuturnya dengan nada sesal.
Di sisi lain, Ketua Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Prof Usep Abdul Matin saat memberikan sambutan dalam kegiatan yang sama menyebut peluang KHM Yusuf Hasyim untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional semakin besar. Sebab salah satu ganjalan yang dimungkinkan akan menghadang beliau adalah karena beliau pernah ditahan dan menjalani sidang militer dengan tuduhan terlibat dengan pemberontakan DI/ TII. Namun akhirnya beliau dibebaskan karena tidak adanya bukti-bukti atas tuduhan tersebut. “Jadi, beliau bebas dari pasal tersebut, beliau hanya korban fitnah,” jelasnya. Artinya, peluang untuk lolos sebagai pahlawan nasional semakin besar.


