Surabaya, radar96.com – Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai
38 alumni doktor penerima beasiswa Pemprov Jatim angkatan pertama dari komunitas pesantren merupakan doktor yang paling berhak melakukan riset tentang pesantren.
Dalam sambutan pada Refleksi Akhir Tahun 2025 dan Resolusi Pengkhidmatan Alumni Penerima Beasiswa Program Doktor di Surabaya, Jumat, Ketua LPPD Jatim, Prof. Halim Soebahar menyampaikan dari 40 mahasiswa angkatan pertama program beasiswa doktor tahun 2022, sebanyak 38 di antaranya berhasil menuntaskan studi.



“Masyarakat memiliki harapan besar terhadap kontribusi para lulusan doktor, terlebih Jawa Timur akan memanen hingga 250 doktor baru dalam tiga tahun ke depan. Pertanyaannya sederhana: khidmah alumninya bagaimana?,” katanya.
Menurut dia, riset para doktor, terutama yang berasal dari komunitas pesantren, akan memiliki dampak besar. “Orang dalam pesantrenlah yang paling memahami dan paling berhak menarasikan dunianya,” ujarnya.
Prof. Halim juga menegaskan bahwa para santri membutuhkan legitimasi akademik untuk memperluas pengabdian. “Banyak tentara tapi tidak memiliki tembak,” katanya, mengibaratkan pentingnya gelar doktor sebagai alat formal untuk memperkuat kontribusi keilmuan santri.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jatim, Imam Hidayat. Ia menekankan bahwa pembangunan Jawa Timur ke depan harus berbasis riset komunitas, khususnya pesantren. Selama ini, banyak kajian pesantren ditulis oleh pihak luar yang kerap menghasilkan stereotipe negatif.
“Salah satu wujud khidmah para alumni adalah riset yang berangkat dari kebutuhan pesantren itu sendiri. Pesantren punya kekuatan sosial, ekonomi, dan kultural. Riset harus dihilirisasikan menjadi kurikulum, model kebijakan, hingga intervensi berbasis bukti,” ungkapnya.
Dalam sesi pemaparan materi, Prof. Mas’ud Said, Direktur Pascasarjana UNISMA Malang, menyebutkan pengembangan SDM merupakan fokus utama dalam RPJMD Jawa Timur, mulai dari pendidikan dasar hingga pesantren.
Ia mengingatkan bahwa rasa syukur alumni terhadap beasiswa negara harus dibuktikan melalui kontribusi nyata.
Sementara itu, Prof. Masdar Hilmy, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, menekankan bahwa program beasiswa LPPD merupakan program unggulan yang harus disyukuri dengan kontribusi ilmiah nyata.
Ia mengingatkan agar kecanggihan AI tidak membuat para akademisi malas berpikir. “AI harus kita jadikan alat, bukan tempat menyerahkan kemampuan nalar kita. Refleksi ilmiah penting, karena kita berhadapan dengan tantangan eksternal yang tidak sederhana,” ungkap Prof. Masdar.
Kegiatan refleksi ini diakhiri dengan penyusunan rekomendasi resolusi pengkhidmatan alumni doktor bagi pembangunan Jawa Timur. Rekomendasi tersebut akan menjadi masukan strategis LPPD untuk pengembangan kebijakan berbasis riset, pengabdian berbasis komunitas khususnya yang berkaitan dengan penguatan pesantren, kualitas pendidikan, dan percepatan pembangunan SDM di Jawa Timur. (*/lppd)



