Palembang (Radar96.com/NUO) – Katib ‘Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Said Asrori, dalam rangkaian Harlah ke-99 NU di Palembang, Sumatra Selatan, turut menyoroti persoalan kelangkaan minyak goreng yang hingga kini belum menemui titik terang. Padahal, Indonesia merupakan negara besar penghasil sawit.
“Kita ini negara penghasil sawit yang besar. Anehnya, minyak goreng langka dan mahal. Ini pasti ada sesuatu yang tidak benar dalam pengelolaan,” ujarnya saat berbicara dalam Halaqah Lingkungan Hidup, Temu UMKM dan Petani Sawit yang digelar di Palembang, Jumat (4/3/2022).
“Rakyat sampai kesulitan mencari, mendapatkan, dan membeli minyak. Sangat ironis,” sambung Kiai Said Asrori. Kelangkaan stok dan lonjakan harga minyak goreng saat ini, lanjut dia, harus ada sikap sigap menanggapi dan mencari solusi. Hal ini karena menyangkut kemaslahatan masyarakat luas.
Kiai asal Magelang Jawa Tengah ini juga menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama umat manusia.
“Apalagi Rasulullah saw bersabda, ‘manusia bersama-sama dalam tiga hal yakni air, hutan, dan energi’. Untuk itu, sumber daya air, hutan, dan energi harus dikelola bersama untuk kepentingan pemenuhan hajat hidup orang banyak,” tegas Kiai Said Asrori.
Pengasuh Pesantren Raudlatut Thullab, Tempuran, Magelang itu berharap, forum Halaqah Lingkungan Hidup yang digelar dalam rangkaian Harlah NU bisa menawarkan beragam solusi dalam rangka mensejahterakan rakyat Indonesia.
“Kita PBNU, mengajak semua pihak untuk bersama-sama membenarkan sesuatu yang tidak boleh dibiarkan. Harus ada solusi dalam rangka kesejahteraan seluruh warga negara Indonesia,” kata Kiai Said Asrori.
“Semoga halaqah ini memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga kita selalu diberikan bimbingan dan kekuatan untuk berkhidmah di NU, bangsa, dan negara,” pungkas putra Almaghfurlah KH Asrori Ahmad Magelang itu.
Peremajaan Sawit Rakyat
Sementara itu, penanaman kembali (replanting) Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Harlah ke-99 NU Wilayah Barat. Dalam kegiatan ini, Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memimpin langsung proses peremajaan sawit rakyat di Desa Kencana Mulia, Kecamatan Rambang, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, Jumat (4/3/2022).
“Acara hari ini replanting sawit yang menjadi program pemerintah, dengan target 180 ribu hektare per tahun. Dalam acara ini tadi disampaikan bahwa untuk petani diberikan bantuan yang sebelumnya Rp25 juta/ hektare, dinaikkan menjadi Rp30 juta/hektare,” ujar Airlangga di Muara Enim, Jumat (4/3/2022).
Melalui bantuan tersebut, Airlangga menyampaikan bahwa petani sawit yang mengelola dua hektare bisa mendapatkan Rp60 juta, atau Rp 120 juta untuk yang mengelola empat hektare. Program itu ke depannya bisa dilanjutkan dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk modal kerja seperti membeli kebutuhan pupuk dan sebagainya.
“Periode kreditnya diberikan waktu bisa sampai lima tahun. Bunganya 3 persen, dan 3 persen itu disubsidi oleh pemerintah,” ungkap Menko Airlangga. Menko mengajak para petani dan kelompok masyarakat untuk mengambil kesempatan baik ini.
Dia mengungkapkan, selanjutnya anggaran tersebut akan diberikan juga kepada kelompok masyarakat secara umum, dan bisa digunakan untuk pengembangan usaha seperti perkebunan kelapa maupun perkebunan karet.
Dalam kesempatan sama, Ketua Umum PBNU Gus Yahya menambahkan bahwa program pendampingan dan kerja konkret bersama rakyat adalah salah satu serangkaian kerja sama NU dengan pemerintah melalui beberapa kementerian.
Gus Yahya berharap, tata kelola perkebunan sawit rakyat dapat lebih menjangkau kearifan lokal, demi praktik pendampingan di lapangan yang lebih efektif, optimal, dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit.
“Ini akan terus kita kembangkan, seperti kita sampaikan kepada bapak Presiden bahwa kami ingin NU bisa diperankan sebagai penyangga berbagai agenda negara, dalam hal ini agenda pemerintah, tentu untuk kemaslahatan rakyat banyak,” ungkap putra KH M Cholil Bisri Rembang ini.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan komoditas pertanian kelapa sawit turut berkontribusi mencapai 15,6% dari total ekspor non-migas dan menyumbang sekitar 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Industri ini memiliki peran strategis dalam mengentaskan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja bagi lebih dari 16 juta pekerja. Industri kelapa sawit, lanjut dia, mendorong pertumbuhan industri dalam negeri dengan memproduksi lebih dari 146 jenis produk hilir yaitu produk pangan, produk industri, dan juga menjadi produk energi yang menggantikan solar melalui program mandatori biodiesel B30. Hal ini turut menghemat devisa dengan pengurangan impor solar.
Menurut Menko Airlangga, industri sawit ini selain mendorong kemandirian energi, mengurangi emisi gas, juga mengurangi impor solar atau diesel sebesar Rp38 triliun rupiah di tahun 2020.
“Tahun ini dengan adanya program B30 diperkirakan terjadi penghematan devisa sebesar Rp 56 triliun,” ungkap Airlangga dalam Pekan Riset Sawit Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) beberapa waktu lalu. (*/NUO)
Sumber:
*) https://www.nu.or.id/nasional/minyak-goreng-langka-dan-mahal-katib-aam-pbnu-sangat-ironis-GSBPG
*) https://www.nu.or.id/nasional/ketum-pbnu-dan-menko-perekonomian-pimpin-proses-peremajaan-sawit-rakyat-z9vdr

