By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Al Zaitun : Sinkretisme – Eklektisisme ?
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Al Zaitun : Sinkretisme – Eklektisisme ?
Kolom

Al Zaitun : Sinkretisme – Eklektisisme ?

22/06/2023 Kolom
Pondok Pesantren Al-Zaytun (Tangkapan layar al-zaytun.sch.id)
SHARE

Oleh KH As’ad Said Ali *)

Panji Gumilang, pemilik ponpes Al Zaitun menjadi sorotan publik karena pandangan keagamaan yang “nyleneh” dan berbeda dengan pandangan kaum muslimin umumnya.

Sebelum mendirikan ponpes, ia adalah komandan wilayah 9 ( KW 9 ) Darul Islam / Negara Islam Indonesia ( DI / NII ). Setelah tertangkapnya Kartosuwirya pada 1962, DI / NII dilarang, otomatis KW 9 juga bubar.

Setelah dibubarkan, banyak anggota eks DI / NII, termasuk Panji Gumilang, kemudian direkrut oleh aparat intelijen dan selanjutnya dilibatkan dalam meredam agresivitas PKI sejak 1963.

Bermula dari kegiatan perlawanan terhadap PKI inilah, Panji Gumilang (PG) berkenalan dengan para perwira militer / intelijen, khususnya intelijen Angkatan Darat.

Panji Gumilang, pada satu sisi memanfaatkan kedekatannya tersebut untuk mendirikan ponpes Al Zaitun di Indramayu. Sedangkan pada sisi lain, aparat keamanan dan intelijen menggandeng PG selain untuk melawan komunis, juga sebagai upaya guna mencegah aktivis DI / NII kembali mengangkat senjata.

Sejak semula, Panji Gumilang (PG) memang tertarik mendalami agama Islam, khususnya ajaran Isa Bugis, seorang ustadz, yang berasal dari Aceh. Pada awal 1970 an PG menjadikan pengikutnya eks DI / NII sebagai pengikut Ajaran Isa Bugis, terutama di daerah Cisaat, Sukabumi. Akibatnya terjadi konflik dengan masyarakat sekitar yang menolak kegiatan mereka dan menganggapnya sebagai aliran sesat.

Ajaran Isa Bugis yang kontroversial itulah yang kemudian diajarkan di Ponpes Al Zaitun. Para pengamat umumnya memandang Ajaran Isa Bugis yang kemudian di adopsi oleh Al Zaitun, sejatinya merupakan pemahaman Islam berdasarkan pemikiran “Synkretisme“ dan “Eklektisisme”.

Synkretisme merupakan suatu faham yang menggabungkan atau mencampurkan ajaran berbagai agama menjadi “ajaran baru “. Sedangkan Eklektisisme merupakan pola pikir yang sejalan dengan Synkretisme yaitu suatu faham yang mengambil berbagai pendapat atau teori yang dianggapnya benar untuk digabung menjadi suatu “pendapat baru“.

Dengan demikian, agama yg diajarkan oleh Al Zaitun meskipun mengunakan label “Islam“, tetapi secara esensial dianggap oleh pemeluk Islam umumnya dianggap menyimpang dari Islam atau dianggap sebagai aliran sesat.

Sejak ajaran tersebut mulai didakwahkan di Cisaat, Sukabumi pada akhir 1960 an – awal 1970- an telah mendapat reaksi keras dari masyarakat. Akhirnya, PG memindahkan pusat dakwahnya ke Indramayu dalam bentuk pesantren yang dikenal dengan “Al Zaitun“.

Barangkali pemerintah pada masa awal Orde Baru mengizinkan Al Zaitun dengan lebih mendasarkan pada kepentingan keamanan dan abai terhadap ajaran agama yang bercorak sinkretisme yang dikemudian hari menjadi masalah politik.

Ketika menjabat sebagai Wakil Kepala BAKIN , saya diajak oleh KA BAKIN berkunjung ke ponpes tetapi dengan berbagai alasan saya menghindar karena mengantisipasi munculnya “bom waktu“ di kemudian hari.

Bagaimana mengatasi kemungkinan meledaknya “bom waktu“ tersebut. Memang dilematis karena alumni ponpes Al Zaitun cukup besar jumlahnya. Sedangkan pada sisi lain reaksi masyarakat justru akan semakin besar seperti tercermin dari tuntutan MUI yang menghendaki pemerintah menyatakan ajaran PG merupakan aliran yang menyintang. (*/fb)

*) Penulis adalah pakar intelijen yang alumni Pesantren Krapyak dan mantan Wakil Kepala BAKIN (purna 2011) dan mantan Wakil Ketua Umum PBNU (2010-2015) serta penggagas PKPNU. Saat ini menjadi Mustasyar PBNU (2022-2027)
*) Tulisan ini diambil dari catatan FB milik penulis

Iklan.

You Might Also Like

Dibalik angka 6 + 10 = 17 di Ranah Geopolitik

Tahun Baru Islam 2026, ada “FishTech” di Masjid Al-Akbar, Apa Itu?!

Membangun Citra Pesantren: Sinergi Kinerja Alumni, Kharisma Kiai dan Tatakelola Manajemen Modern

Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi

Dewan Kesenian Bagian Spesifik dari Kebudayaan 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Aries Agung Paewai gantikan Wahid Wahyudi jadi Kadisdik Jatim
Next Article GOR Stikosa-AWS Jadi Pusat Latihan Tim AVC Challange Cup 2023

Advertisement


Iklan.

Berita Terbaru

BAZNAS Bondowoso Perkuat Akses Pendidikan
Sospol
SIKLUS, Inovasi Pasta Gigi Herbal Karya Pesantren Hidayatullah Surabaya
Ekraf
Dibalik angka 6 + 10 = 17 di Ranah Geopolitik
Kolom
Saat Lantik OSIM di MDW Putri Pesantren Sukorejo, Wabup Situbondo Ulfiyah Ajak Santri Percaya Diri dan Terus Berkembang
Milenial

You Might also Like

KolomUncategorized

Konversi Energi Kedua Republik Indonesia: Amanat Penderitaan Rakyat Madura

13/05/2026
Kolom

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

28/04/2026
Kolom

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

27/04/2026
Kolom

PERANG HORMUZ

27/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?