By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU
Kolom

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

27/04/2026 Kolom
Sudarsono Rahman
SHARE

Oleh: Sudarsono Rahman

Pernyataan yang disampaikan Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid dalam forum Halal Bihalal Ikatan Alumni PMII di Jakarta telah memantik perbincangan luas di ruang publik. Kritik terhadap kinerja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021–2026—yang dinilai belum mampu mengonsolidasikan “gerbong besar” Nahdlatul Ulama—perlu disikapi dengan jernih, bukan reaktif.

Sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, saya memandang bahwa evaluasi terhadap kepemimpinan adalah keniscayaan. Organisasi sebesar NU tidak boleh alergi terhadap kritik. Justru dari evaluasi yang jujur dan terbuka, arah gerakan dapat diluruskan, energi organisasi dapat dipulihkan, dan kepercayaan warga dapat dirawat kembali. Dalam konteks ini, saya sependapat: kepemimpinan PBNU memang perlu dievaluasi.
Namun, ada batas yang tidak boleh dilampaui. Kritik tidak boleh menjelma menjadi intervensi.

Di sinilah kita diuji.

Muktamar sebagai forum tertinggi NU adalah ruang sakral kedaulatan organisasi. Para muktamirin—para kiai dan tokoh NU dari berbagai daerah—bukanlah angka-angka yang bisa dihitung, apalagi digiring. Mereka adalah penjaga nilai, pewaris tradisi, dan penentu arah masa depan jam’iyah ini. Mereka tahu, lebih dari siapa pun, siapa yang layak memimpin.

Biarkan muktamirin menentukan pilihannya secara mandiri.

Setiap upaya memengaruhi pilihan—baik melalui tekanan politik, mobilisasi kekuatan luar, maupun iming-iming materi—adalah bentuk pengkhianatan terhadap marwah NU. Politik transaksional tidak hanya merusak hasil, tetapi juga merusak proses. Dan dalam NU, proses adalah bagian dari kehormatan itu sendiri.

Kita juga perlu jujur melihat ke dalam: dinamika dan kontestasi internal yang pernah terjadi tidak boleh terus diwariskan sebagai beban. Tokoh-tokoh yang sebelumnya berada dalam pusaran konflik seharusnya mengambil langkah bijak dengan memberi ruang jeda.

Muktamar mendatang tidak boleh menjadi arena balas dendam kepentingan atau perpanjangan pertarungan lama dengan wajah baru.

NU tidak kekurangan tokoh. NU tidak kekurangan kader. Yang sering kali kurang adalah kesediaan untuk menahan diri demi kepentingan yang lebih besar: persatuan.

Dengan jutaan warga dan jaringan hingga ke akar rumput, NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga mampu merawat kebersamaan di tengah kompleksitas zaman.

Kepemimpinan yang lahir dari proses yang bersih akan memiliki legitimasi moral yang kuat untuk benar-benar mengonsolidasikan “gerbong besar” itu—bukan sekadar mengklaimnya.

Akhirnya, mari kita kembalikan NU pada khittahnya: musyawarah, kemandirian, dan keikhlasan. Evaluasi adalah keharusan, tetapi menjaga independensi muktamar adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.

NU bukan milik kekuasaan. NU bukan alat kepentingan.

NU adalah amanah umat.
Dan amanah itu hanya bisa dijaga jika kita berani berkata tegas: evaluasi, iya—intervensi, jangan.

Surabaya, April 2026

Sudarsono Rahman

Ketua PW IPNU Jatim 1988 – 1992/ Wakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur

Iklan.

You Might Also Like

PERANG HORMUZ

Mencari Isyarah Langit (Ketum PBNU)

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

Hardiknas dan Kebangkitan Intelektual Profesor Muslimat NU

Muktamar NU: ABUKTOR—Asal Bukan Koruptor

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Dukung BKPRMI Jatim, Pesantren Digipreneur Al Yasmin Bekali Remaja Masjid dengan Kemampuan Dakwah Digital
Next Article Pemkot dan Kemenag Surabaya bentuk Pondok Pesantren Tangguh Bencana

Advertisement



Berita Terbaru

Pemkot dan Kemenag Surabaya bentuk Pondok Pesantren Tangguh Bencana
Sospol
Dukung BKPRMI Jatim, Pesantren Digipreneur Al Yasmin Bekali Remaja Masjid dengan Kemampuan Dakwah Digital
Milenial
PERANG HORMUZ
Kolom
Pasangan KH Mahmud Markatam dan H Fathul Ibad Kembali Pimpin MWCNU Sukodono, Siap Optimalkan Lembaga dan Khidmat Nahdliyin
Nahdliyyin

You Might also Like

Kolom

Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah

20/04/2026
Kolom

Fenomena “Ghosting Berkedok Lupa: Seni Menghilang Tanpa Rasa Bersalah” dalam Perspektif Relasi Sosial dan Etika Keislaman

18/04/2026
Kolom

Menuju NU yang Profesional dan Mandiri Refleksi Muskerwil 2026 PWNU Jatim)

10/04/2026
Kolom

Presiden Prabowo dan Pelajaran Penting dari “Satu Abad NU”

09/02/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?