Catatan Peradaban
Dr. H. ROMADLON SUKARDI MM
EPISODE II
Dari Kaset, Abah Hasyim Muzadi, hingga Pesantren Digipreneur
Ketika Kreativitas Media Berubah Menjadi Gerakan Peradaban
Jika Episode I adalah kisah tentang mencari jalan, maka Episode II adalah kisah tentang menemukan makna pengabdian. Pertemuan dan kebersamaan Helmy dengan Almaghfurlah KH. Ahmad Hasyim Muzadi menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Bersama saya, Imam Ghozali Aro, Ir. Amirullah, dan banyak sahabat lainnya, Helmy memperoleh kesempatan belajar bukan hanya dari ceramah Abah Hasyim, tetapi dari cara beliau menjalani kehidupan, memimpin organisasi, berdakwah, membangun jaringan, dan membaca perubahan dunia.
Ke mana pun Abah Hasyim pergi, Helmy kerap mendampingi. Dari forum PWNU dan PBNU, rapat kerja, Munas, Konbes, Muktamar NU, pengajian, istighatsah, seminar kebangsaan, acara pemerintahan, hingga perjalanan ke berbagai daerah dan mancanegara. Tugasnya terlihat sederhana: membawa tape recorder, kamera video, kamera foto, dan kemudian perangkat digital. Namun sesungguhnya, di balik perangkat itulah berlangsung sebuah madrasah kepemimpinan dari balik layar.
Helmy belajar bahwa seorang pemimpin tidak hanya berbicara di podium. Ia belajar dari cara Abah Hasyim menyapa masyarakat, menghadapi persoalan, mengambil keputusan, membangun komunikasi, menjalin persahabatan, dan menjaga keseimbangan antara prinsip dan perubahan. Karena itu, kedekatan Helmy dengan Abah Hasyim bukan sekadar hubungan kiai dan santri atau antara pemimpin dan khadam. Ia merupakan proses kaderisasi kehidupan.
Salah satu pengalaman yang sangat membekas adalah ketika Abah Hasyim pulang dari Amerika Serikat dan memberikan sebuah koper kepada Helmy. Helmy sempat mengira koper itu berisi dolar atau oleh-oleh berharga. Namun ketika dibuka, ternyata isinya kaset-kaset rekaman ceramah, diskusi, dan berbagai materi pemikiran.
Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah koper penuh kaset. Bagi Helmy dan saya, koper tersebut berubah menjadi “koper ilmu”. Kaset-kaset itu kami dengarkan, transkrip, susun, terjemahkan, dan olah menjadi karya. Dari proses tersebut lahir buku KH. Ahmad Hasyim Muzadi: Dari Sunan Bonang hingga Paman Sam, kemudian Guyonan Ala KH. Ahmad Hasyim Muzadi. Di situlah kami belajar bahwa dokumentasi bukan sekadar menyimpan suara, tetapi mengubah suara menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi warisan peradaban.
Semangat tersebut kemudian menemukan bentuk kreatif melalui HR Production—Helmy-Romadlon Production. Pada masa ketika internet dan media sosial belum hadir seperti sekarang, kami mencoba membaca masa depan melalui media yang tersedia: kaset, audio klip, rekaman ceramah, musik, dan dokumentasi audio visual.
Kami memproduksi berbagai karya yang memuat ceramah KH. A. Hasyim Muzadi dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), termasuk Stop! Teror Terhadap Kiai, Santri dan Umat Islam, Membaca Peta Politik Indonesia 1998–1999, Menggagas Partai Masa Depan, Setelah Gus Dur Lengser, hingga karya Audio Klip Gus Dur Indonesia Menyanyi dan Dzikir Kebangkitan Bangsa.
Kreativitas tersebut juga bertemu dengan dinamika kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ketika kaset menjadi salah satu medium komunikasi paling efektif, pesan politik, kebangsaan, dakwah, dan nilai-nilai keumatan dikemas dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat. Lahirlah karya-karya qosidah seperti Dzikir Kebangkitan, PKB Pilihanku, dan Dari NU untuk Indonesia, termasuk jargon yang sangat kuat pada zamannya: “PKB Membela Yang Benar.”
Di sinilah saya melihat HR Production bukan sekadar usaha produksi kaset. Ia merupakan embrio dari apa yang hari ini kita kenal sebagai content creation, creative industry, dan digital entrepreneurship. Keterbatasan teknologi justru memaksa kami untuk kreatif. Kami belajar bahwa sebuah gagasan akan memiliki daya jangkau lebih luas apabila dikemas secara menarik dan disampaikan melalui medium yang dekat dengan masyarakat.
Perjalanan itu kemudian berlanjut pada gagasan membangun kembali Harian Duta Masyarakat sebagai media perjuangan warga Nahdlatul Ulama. Bersama Effendy Choirie, Mas’ud Adnan, Mabrur, dan sejumlah sahabat lainnya, kami pernah menyusun proposal bisnis, perencanaan redaksi, hingga proyeksi keuangan. Meskipun rencana tersebut belum terwujud karena dinamika organisasi saat itu, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses belajar Helmy dalam memahami dunia media secara lebih luas.
Setelah KH. A. Hasyim Muzadi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-30 di Lirboyo, semangat membangun media warga NU terus berkembang. Helmy kembali terlibat dalam berbagai aktivitas penerbitan, dokumentasi, dan komunikasi. Tidak semuanya bertahan lama, tetapi setiap pengalaman meninggalkan pengetahuan baru.
Dari pengalaman panjang itulah kemudian lahir Cita Entertainment. Dunia multimedia, videografi, dokumentasi, editing, komunikasi visual, dan produksi konten semakin menjadi bagian dari perjalanan Helmy. Apa yang dahulu dimulai dari kaset pita dan kamera sederhana perlahan berkembang menjadi ekosistem kreativitas digital.
Dan akhirnya, perjalanan tersebut menemukan bentuk yang menurut saya paling utuh: Pesantren Digipreneur Al Yasmin.
Di sana, pengalaman masa lalu tidak dibuang, tetapi ditransformasikan. Tradisi pesantren bertemu teknologi. Kitab dan kamera berjalan berdampingan. Santri tidak hanya diajak memahami agama, tetapi juga dipersiapkan menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk dakwah serta pemberdayaan ekonomi.
Dawuh Almaghfurlah KH. Ahmad Hasyim Muzadi—”Hel… tekunono opo sing mbok lakoni saiki. Insyaallah dadi penguripan”—seakan menemukan makna baru setelah perjalanan panjang itu. Apa yang dahulu terlihat sebagai kegemaran memegang kamera, merekam ceramah, mengedit video, dan mengelola media, ternyata menjadi jalan kehidupan.
Dari Senat Mahasiswa UNDAR, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kantor PWNU Jawa Timur, hiruk-pikuk Reformasi 1998, HR Production, dunia jurnalistik dan multimedia, hingga Pesantren Digipreneur Al Yasmin, terdapat satu benang merah yang tidak pernah putus: mengubah pengalaman menjadi karya, karya menjadi kebermanfaatan, dan kebermanfaatan menjadi bagian dari ikhtiar membangun peradaban.
Dalam pandangan saya, perjalanan H. Helmy M. Noor bukan sekadar biografi seorang aktivis, wartawan, praktisi multimedia, atau pengasuh pesantren. Ia adalah kisah tentang bagaimana seorang santri membaca zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari perjalanan ini: teknologi boleh berubah, medium boleh berganti, zaman boleh bergerak cepat, tetapi nilai pengabdian harus tetap menjadi kompas.
Wallahu A’lamu Bisshawab.



