By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Unusa Gandeng Jepang Kenalkan Modul J*sKeps untuk Pendidikan Berkebutuhan Khusus
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > Unusa Gandeng Jepang Kenalkan Modul J*sKeps untuk Pendidikan Berkebutuhan Khusus
Sospol

Unusa Gandeng Jepang Kenalkan Modul J*sKeps untuk Pendidikan Berkebutuhan Khusus

10/07/2025 Sospol
SHARE

Surabaya, radar96.com – Rabu (9/7) siang, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggandeng Tasuc Corporation Jepang, dalam Kuliah Pakar untuk mengenalkan modul Japanese Seven Key Points (J*sKeps) untuk pendidikan berkebutuhan khusus, sekaligus membekali para mahasiswanya.

Pakar pendidikan anak berkebutuhan khusus Tasuc Corporation, Ukai Saito, menjelaskan perusahaannya berkomitmen dalam mendukung pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.

Ukai mengamati pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. di Indonesia masih belum maksimal, ada bagian yang terlewatkan, sehingga orang dewasa yang ada di sekitar anak tersebut belum bisa memahaminya.

Problema sekolah inklusi di Indonesia masih belum menemukan ujungnya. Memberikan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus memiliki cara dan tahap yang berbeda dari anak pada umumnya. Menurut Ukai, kondisi ini juga sudah pernah dialami Jepang puluhan tahun lalu.

“Saya ingin berbagi ilmu kepada teman-teman di Indonesia mengenai pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, saya yakin Indonesia juga punya komitmen yang sama dengan Jepang dalam hal ini,” ungkapnya di Auditorium Lantai 9 Unusa Tower.

Dia menjelaskan jika anak-anak berkebutuhan khusus ini rentan mengalami diskriminasi, yang membuat mereka kehilangan kepercayaan diri.

Untuk meningkatkan hasrat hidup mereka, perlu dilakukan beberapa tahap dengan memberi mereka keyakinan, pemahaman juga pengetahuan, hingga pengalaman.

“Tahap kedua itu paling penting, karena memberikan pemahaman. Ketika mengetahui dan memahami anak berkebutuhan khusus, maka diskriminasi itu bisa berkurang,” jelasnya.

Peran orang tua dalam mengetahui dan memahami anak mereka yang berkebutuhan khusus itu begitu penting. Ketika orang tua bisa memahami kondisi anak mereka, maka dukungan rehabilitasi pada anak bisa dilakukan secara tepat.

Untuk mengetahui kondisi anak perlu dilakukan asesmen. Ukai membeberkan bahwa asesmen yang dilakukan Tasuc berbeda dengan pada umumnya.

“Asesmen milik Tasuc itu lebih dinamis, sedangkan umumnya konvensional,” ungkapnya.

Menurut Ukai, asesmen dinamis ini melangkah lebih jauh dengan mengetahui apa yang harus dilakukan, sedangkan asesmen konvensional hanya terbatas pada diagnosa anak.

“Poin penting dalam modul J*sKeps adalah pengulangan, dengan melakukan penilaian pada asesmen ini dalam jangka waktu satu tahun. Asesmen dinamis ini sudah diterapkan oleh Amerika bahkan Inggris,” katannya.

Berdasarkan penelitian oleh para ahli di Jepang, anak-anak berkebutuhan khusus seperti ASD, ADHD, hingga gangguan perkembangan otak ini mengalami penuaan fisik lebih cepat dari anak pada umumnya, mulai dari usia 40 tahun.

“Umumnya, kondisi penuaan fisik turun drastis terjadi saat usia 75 tahun. Kondisi ini membuat orang tua di Jepang merasa khawatir akan kondisi yang akan datang, hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan anak mereka yang berkebutuhan khusus,” tutur Ukai.

Akan tetapi kondisi itu sudah terlewati oleh Jepang, dan Ukai tidak ingin ini terjadi di negara-negara lain. Jika Indonesia tidak serius dalam memikirkan pendidikan anak berkebutuhan khusus, tidak menutup kemungkinan kondisi ini bisa terjadi di Indonesia.

Bukan hanya berbagi ilmu, Ukai juga mengajarkan para peserta kuliah pakar tentang cara menghadapi anak berkebutuhan khusus, hingga alat-alat yang digunakan untuk mengajari mereka belajar.

Dalam sambutannya, Rektor Unusa Prof. Achmad Jazidie, M.Eng., mengatakan bahwa kita perlu menghormati anak-anak berkebutuhan khusus.

“Penting bagi kita tahu cara berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Beberapa penanya bertanya tentang apa yang harus dihadapi oleh mereka di sekolah atau kelas maupun dalam bermasyarakat. (*/Unusa)

Iklan.

You Might Also Like

15 Delegasi YME Hong Kong Kunjungi Masjid Al-Akbar Surabaya

Bukit Piramid Berduka, Dua Pendaki Profesional Ditemukan Meninggal di Jalur Punggung Naga

Unusa Siapkan Redesain Kurikulum untuk Cetak Pembelajar Sejati di Era AI

Film “SATRIA” Juara I, Kepala Kreator Zaehol Fatah Dorong Film Pesantren Jadi Instrumen Pendidikan Karakter

PPP Championship 2026 Berakhir, PPP Jatim: Bondowoso Berhasil Bangun Pembinaan Futsal dari Akar Rumput

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Pokmas Desa Jumputrejo Sidoarjo Sukses Tanam Melon dengan Teknologi Modern
Next Article Pra-Munas Majelis Alumni IPNU 2025 Bahas RUU Sisdiknas, Singgung Akses Pendidikan Berkualitas

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Membangun Ekonomi Mandiri untuk Organisasi dan Warga NU
Uncategorized
Cangkrukan Ekonomi Pancasila, PWNU Jatim Tegaskan Keberpihakan NU terhadap Perjuangan UMKM
Nahdliyyin
KAJIAN TENTANG AHLUL HALLI WAL AQDI BERDASAR AD ART NU
Kolom
NU harus perkuat anti korupsi untuk lindungi ulama, jamaah dan jam’iyah
Kolom

You Might also Like

Sospol

Gelar BRAVE! VIBES 2026, Unusa Ajak Pemuda Dunia Rancang Solusi Kemiskinan, Pendidikan, dan Ekonomi

03/08/2026
Sospol

100 PD Korps Muballighah DMI se-Jatim Lakukan Gerakan Transformasi Jadi Masjid Ramah Anak

03/08/2026
Sospol

Menag Apresiasi “Istighotsah dan Tabligh Akbar” Jelang IGIC 2026 di Masjid Al-Akbar

02/08/2026
Sospol

Ketua DMI Kota Surabaya Sesalkan Vonis 4 Bulan Penjara atas Kasus Pencurian Uang Rp5.000

02/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?