By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Paradoks Perguruan Tinggi Bidang Sains dan Teknologi
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Paradoks Perguruan Tinggi Bidang Sains dan Teknologi
Kolom

Paradoks Perguruan Tinggi Bidang Sains dan Teknologi

21/08/2025 Kolom
SHARE

Oleh: Yusuf Amrozi *)

Selepas membuka International Conference di Universitas Maarif Hasyim Latif, Dirjen Sains dan Teknologi – Kemendikti Saintek Prof. Ahmad Najib Burhani, MA, MSc, PhD hadir untuk memberikan kuliah umum di UIN Sunan Ampel Surabaya, dimana Fakultas Sains dan Teknologi UINSA sebagai host-nya pada hari kamis, 14 Agustus 2025. Hadir pada kegiatan ini pimpinan UINSA, para dekan serta civitas akademika yang lain.

Sebagai akademisi yang bekerja di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Prof. Najib berbicara tentang peluang dan tantangan riset nasional. Berbicara di kampus PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) ini, dia juga berbicara kejayaan cendikiawan muslim dalam memberikan kontribusi keilmuan global. Bagaimana muslim scholars masa lalu mendasari dan mempengaruhi pengetahuan di barat dan dunia, maupun sejumlah cendikiawan muslim dewasa ini yang meraih nobel. Tidak lupa sebagai Dirjen Saintek, Prof. Najib juga mengutarakan tugas dan fungsinya di kementerian saat ini.

Sayangnya panitia tidak memberikan kesempatan kepada audien untuk tanya jawab, hanya ceramah satu arah saja. Saya sebenarnya ingin berdiskusi bahwa dalam konteks politik birokrasi, seringkali nomenklatur kementerian berubah. Misalnya pada periode Presiden Joko Widodo yang pertama, ada Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang ingin agar ada integrasi dan kolaborasi ristek dan dikti sehingga menghasilkan luaran pengetahuan dari anak bangsa secara lebih optimal.

Akan tetapi pada periode Pak Jokowi yang kedua ada sedikit perubahan nomenklatur kementrian tersebut. Ironisnya publik tidak mendapatkan gambaran yang jelas terhadap sejauhmana prestasi yang menonjol dari penggabungan Ristek dan Dikti saat itu. Tapi satu yang saya ingat saat Menristekdikti M. Nasir telah di launching Science and Technology Index (SINTA) yang saat ini cukup berpengaruh dan menjadi rujukan indeksasi ilmuwan di dalam negeri.

Rupanya pada periode Presiden Prabowo saat ini keinginan untuk melakukan akselerasi inovasi pengetahuan dan teknologi sudah tidak bisa ditawar lagi serta bagaimana melakukan hilirisasi (baca: kapitalisasi) dari product knowledge tersebut, melalui keberadaan Kementerian Dikti dan Saintek. Dimana setidaknya ada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), dan Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek) yang digawangi oleh Prof. Najib ini.
Nampaknya PR besar Prof. Najib adalah bagaimana melakukan percepatan kinerja di Ditjen Saintek tersebut. Artinya isu sains dan teknologi ataupun disiplin ilmu saintek menjadi salah satu prioritas pada pemerintahan saat ini.

Paradoks Integrasi (PT/Saintek dan industri)

Boleh dibilang semua perguruan tinggi yang berbentuk universitas memiliki prodi bidang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Math) sebagai salah satu persyaratan pendiriannya. Oleh sebab itu keberadaan prodi rumpun tersebut diharapkan selaras serta mampu berkolaborasi secara lebih efektif dengan kinerja bidang sains dan teknologi, khususnya di Kementerian Dikti Saintek.

Sayangnya integrasi pendidikan tinnggi dengan kinerja bidang sains dan teknologi nampaknya belum terlihat sesuatu prestasi yang monumental. Seringkali temuan pengetahuan dari kampus, termasuk dosen bidang sains dan teknologi masih saja belum secara optimal terdesiminasikan dengan sektor lain termasuk dengan industri. Para dosen lebih memilih langkah pragmatis untuk bagaimana hasil risetnya dipublikasikan di jurnal jurnal bereputasi baik nasional maupun internasional untuk kepentingan karir akademiknya.

Maka yang terjadi adalah seolah-olah kampus, BRIN sebagai rumah besar lembaga penelitian Indonesia yang membawahi sejumlah organisasi riset pemerintah, maupun lembaga penelitian non pemerintah serta pihak industri berjalan sendiri-sendiri. Industri memang akan melihat produk dan teknologi yang seperti apa yang memang mampu diterima oleh pasar. Disisi lain kampus atau lembaga riset terlalu focus pada idealisme keilmuan masing masing sehingga hasil dan luarannya agak sulit jika dilakukan hilirisasi ke pasar. Oleh sebab itu disinilah perlunya intensitas komunikasi dan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset dan pihak industri.

Kampus (Dilema hasilkan Praktisi-Akademisi)

Disisi lain kampus juga memiliki kegamangan untuk menitik tekankan kompetensi lulusannya. Antara menghasilkan profesional dibidang disiplin ilmu pada jurusannya, ataukah membuktikan reputasi sebagai lembaga akademik yang memiliki rekognisi dibidang penelitian dan publikasi. Tuntutan menjadi kampus bereputasi internasional dengan kinerja riset dan publikasi ini yang akhirnya mengharuskan kampus menggerakkan sumberdaya termasuk mahasiswanya untuk mengejar tarjet capaian akademik berupa luaran penelitian tersebut.

Dampak dari pola ini secara tidak sadar peserta didik lebih diorientasikan menjadi peneliti dibanding dengan praktisi atau profesional dibidangnya. Data BPS pada februari 2025 dari sisi pengangguran terbuka tenaga kerja kita, peran perguruan tinggi memberikan sumbangsih pada angka sekitar 6,23 persen.

Artinya dengan pola desain kurikulum yang sedemikian rupa dengan tetap mengorientasikan pada lulusan sesuai profesi, serta melaksanakan penjaminan mutu pendidikan yang baik niscaya angka 6 persen tersebut bisa lebih ditekan. Memang urusan penyerapan tenaga kerja tidak melulu dari faktor perguruan tinggi sebagai penyedia lulusan, tetapi juga dari sisi iklim industri maupun sektor ketenagakerjaan pada umunya.

Memang pihak kampus biasanya ada pola yang standart dalam menghasilkan potret lulusannya. Pola itu mudah dikenali dengan menggunakan akronim “BMW”. BMW yang dimaksud disini bukan merk mobil BMW itu, tetapi BMW yang dimaksud kepanjangan dari: Bekerja sesuai jurusannya, Melanjutkan Studi, atau (ber) Wirausaha mandiri.
Departemen atau Program Studi tentu telah mendesain kurikulumnya dengan sejumlah bahan kajian dan matakuliah dengan komposisi tertentu untuk menghasilkan ketiga hal tersebut sesuai learning outcomes atau target capaian pembelajaran. (*)

*) Dr. H. Yusuf Amrozi, M.MT adalah Dosen Fakultas Sains dan Teknologi, dan Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Iklan.

You Might Also Like

MEMBINCANG PELUANG SUARA, DALAM ARAH KOALISI MUKTAMAR NU KE 35

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

PERANG HORMUZ

Mencari Isyarah Langit (Ketum PBNU)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article 100 mahasiswa internasional dan ITS kunjungi Masjid Al-Akbar
Next Article Johsua Terkesan setelah Belajar Aswaja di Unusa

Advertisement



Berita Terbaru

MEMBINCANG PELUANG SUARA, DALAM ARAH KOALISI MUKTAMAR NU KE 35
Kolom
Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35
Kolom
Sowan Rektor, Pesantren Digipreneur Al Yasmin Perkuat Kolaborasi dengan UPN “Veteran” Jawa Timur
Sospol
Siap Diajak Diskusi, ISNU Jatim: Penutupan Prodi Kependidikan Tidak Boleh Tergesa-gesa
Nahdliyyin

You Might also Like

KolomNahdliyyin

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

24/04/2026
Kolom

Hardiknas dan Kebangkitan Intelektual Profesor Muslimat NU

24/04/2026
Kolom

Muktamar NU: ABUKTOR—Asal Bukan Koruptor

23/04/2026
Kolom

Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah

20/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?